Portal Rujukan Studi Maqasid Syariah

 

Fikih - Usul Fikih

Tahqīq al-Manāt dalam Fatwa Hukum

1 Mins read

Moh. Mufid (Peneliti Maqasid Centre, maqasidcentre.id)

Tahqīq al-Manāt merupakan bagian penting dalam kajian hukum Islam. Tahqīq al-Manāt merupakan upaya analisis dalam melacak alasan (illat) hukum dalam suatu kasus selain illat yang diketahui sebelumnya, baik melalui teks, konsensus (ijma’) maupun istinbath.

Penalaran tahqīq al-manāt diklaim dapat memberikan terobosan penting dalam merespon problematika hukum, khususnya di bidang ekonomi syariah yang kian terus berkembang dan dinamis sesuai tuntutan zaman. Tahqiq al-manat juga menjadi alternatif dalam berfatwa hukum.

Tak heran, jika DSN (Dewan Syariah Nasional) MUI salah satu lembaga otoritatif yang menerbitkan fatwa-fatwa ekonomi syariah menjadikannya sebagai solusi dalam menjawab tantangan ekonomi syariah. Hal ini mengingat bahwa ijtihad DSN-MUI harus inovatif dan kreatif demi bersaing dalam menawarkan produk akad syariah yang kompetitif.

Salah satu terobosan fatwa adalah Fatwa DSN-MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010 tentang Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai. Menurut DSN-MUI dibolehkan emas dijadikan obyek jual beli tidak tunai, baik secara angsuran (taqsīth) maupun tangguh (ta’jīl) selama emas tidak menjadi alat tukar yang resmi (uang).

Argumentasinya, bahwa saat ini masyarakat dunia tidak lagi menjadikan emas sebagi alat tukar (uang), tetapi memperlakukannya sebagai barang (sil’ah). Oleh karena itu, larangan jual beli emas secara tidak tunai berdasarkan hadis Nabi tidak berlaku lagi karena illat hukum larangan telah berubah.

Sementara sebagaimana diketahui bahwa illat jual beli emas secara tidak tunai dilarang di era klasik karena fungsi emas dalam sejarah Islam adalah sebagai alat tukar/uang. Berbeda dengan kondisi saat ini, emas sudah menjadi komoditas.

Berbeda halnya, jika emas (sebagai mata uang) akan diperjualbelikan maka harus dilakukan secara tunai untuk menghindarkan terjadinya riba nasa’ (riba karena pertukaran barang ribawi sejenis yang dilakukan tidak secara tunai). Oleh karena itu, perubahan alasan hukum inilah solusi alternatif dalam merespon hukum jual beli emas secara tidak tunai.

Demikian tahqiq al-manat bekerja sebagai penalaran hukum yang progresif dalam merespon perubahan sosiologis-historis yang dinamis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *