Portal Rujukan Studi Maqasid Syariah

 

Maqasid

Harapan Kaum Minoritas Terhadap Konsep Islam Nusantara

4 Mins read

Jeanne Francoise (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, Jakarta, Indonesia)

Merujuk tulisan pada Maqasid sebelumnya bahwa Maqasid Syariah diklaim telah berkontribusi dalam proses ijtihad hukum yang relevan dengan realitas sosial yang melingkupi masyarakat minoritas dengan respons Maqasid Syariah terhadap realitas minoritas dalam konteks ini melahirkan konsepsi fikih minoritas (fiqh al-aqalliyat).

Fikih minoritas tersebut bukanlah sebuah ide dalam semalam, melainkan sebuah diskusi panjang dari para ahli Syariah tentang betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan semua pihak, termasuk minoritas, agar sebuah rencana dapat berjalan sukses. Dalam konteks kehidupan bernegara, Syariah mengatur kehidupan bermasyarakat agar hidup rukun dan damai, sehingga tidak lagi melihat dikotomi mayoritas-minoritas, tetapi semua penduduk adalah kesatuan umat beragama yang dikasihi Tuhan YME.

Perihal fikih yang sudah amat baik tersebut patut dipertahankan, sebab agama Islam dalam tantangan terberatnya, tidak lepas dari bagaimana umat mampu mempertahankan pengaruh para ulama yang berpihak pada cinta dan perdamaian. Lebih tinggi daripada pemikiran itu adalah bahwa sebuah agama merupakan elemen yang diperlukan untuk melengkapi sisi Spiritualitas pemikiran-pemikiran politik.

Apabila dilakukan pengukuran ilmiah apakah benar pemikiran politik terbantu dengan hadirnya agama atau tidak, itu merupakan penelitian tersendiri, namun pesan yang ingin penulis sampaikan disini adalah bahwa realitas manusia untuk berpasrah dan berharap kepada hal-hal Spiritual di luar kemampuan dirinya, itu amat tidak terbendung.

Pun apabila ada pemikiran-pemikiran berbeda tentang Islam dari Salman Rushdie, Ayaan Hirsi Ali, Yasmine Mohammed, Tarek Fatah, Geert Wilders, dan Donald John Trump yang mungkin dianggap sebagai sebuah penistaan agama, hal itu juga merupakan penelitian tersendiri. Hal yang lebih penting daripada memikirkan penista agama Islam adalah memikirkan bagaimana agar fikih-fikih terbaik dari Islam dapat dirasakan oleh semua orang, termasuk mereka yang kurang menghormati Islam.

Dalam konteks Indonesia, Islam merupakan sebuah identitas yang diterima dengan sangat mudah oleh orang Indonesia. Menurut Guru Besar UIN Alauddin Makassar Prof. Dr. Muh. Qasim Mathar, M.A. dalam Diskusi Zoom meeting 10 Juli 2020, perbedaan ibadah Islam di beberapa provinsi di Indonesia terjadi karena terpengaruh oleh budaya setempat dan memang aspek budaya sejatinya menjadi elemen yang tidak bisa terpisahkan bagi orang beragama. Ibara pepatah orang Minang “Alam terkembang jadi guru”, bahwa agama dan budaya setempat akhirnya saling mempengaruhi.

Dalam perkembangan dunia Islam di Indonesia, kasus Ahok mau tidak mau membuat kaum intelektualitas Muslim dari segala keilmuan berdebat dari segala sudut pandang, sebab hal ini bukan hanya tentang dunia Islam dan hubungan mayoritas-minoritas, tetapi juga sejauh mana Pancasila memaknai hubungan antara negara dengan agama. Mantan Menteri Agama RI Prof. Munawir Syadzali pernah mengatakan bahwa Indonesia adalah “negara bukan-bukan”, yakni bukan negara sekuler, pun bukan negara agama. Justru bagi penulis, Indonesia adalah negara “iya-iya”; Indonesia “iya” negara agama dan “iya” negara sekuler.

Terkait hal tersebut, dalam kapasitas penulis sebagai peneliti Pesantren dan Pemikiran Islam Modern, penulis bermaksud memperlihatkan Islam dengan pendekatan dari Syeikh Mohammad Abduh, yang selalu mengedepankan akal rasional, ketimbang kebiasaan-kebiasaan agamis yang sakral.

Islam, dalam gagasan terbaiknya, adalah suatu ide pembebasan agar manusia selalu berpikir dan selalu ingat tentang suatu hal transenden yang mampu mengalahkan pemikiran-pemikiran egoisme batin manusia, sehingga dengan ber-Islam, manusia diharapkan mempu menjadi pribadi terbaik yang rukun, damai, saling membantu, dan memberikan zakat.

Syeikh Mohammad Abduh dalam mengembangkan pemikiran Islam modern tidak lepas dari penolakan dan hinaan, namun sejatinya seorang pejuang, ia pantang menyerah dan tetap menuliskan pemikiran-pemikirannya. Penulis pun demikian. Sebagai minoritas, penulis tetap akan mempelajari Islam sebagai sebuah ilmu pengetahuan, dengan tujuan agar mendapatkan titik terang bagi pengembangan filosofi Pancasila di masa depan.

Indonesia sebagai negara zamrud khatulistiwa dengan keragaman budaya, bahasa, dan agama, akan selalu terkenal sebagai “negara demokrasi dengan penduduk Muslim terbesar”. Sanjungan ini bukanlah sebuah hal yang fana, melainkan nyata dirasakan oleh semua orang. Dalam kehidupan keseharian misalnya, kata-kata Bahasa Arab menjadi lumrah diucapkan oleh semua orang. Kata “Assalamualaikum” misalnya adalah kata formal pembuka dalam setiap rapat-rapat formal kenegaraan, di kelas, di forum, maupun di sosial media. Penulis pun secara tidak sadar pada akhirnya menggunakan sapaan tersebut.

Selain itu, untuk menjadi orang Indonesia sejati, amat perlu mengenal agama Islam. Sebab mayoritas iman WNI maupun Indonesia diaspora adalah Islam. Apabila tidak mengerti keyakinan Islam, mustahil pula untuk mendalami entitas penting kebangsaan, pola kebijakan pemerintahan, aksi-reaksi masyarakat, rantai ekonomi, dan segala pemikiran terkait NKRI. Sebab Islam menjadi pola pikir utama yang tidak disadari (l’état d’esprit principal qui n’est pas réalisé) yang menggambarkan keseharian orang Indonesia pada umumnya.

Dari pengalaman penulis menjadi pembicara International Conference di Mesir (Islam Sunni) dan Iran (Islam Syiah), penulis melihat bahwa umat Islam tidak lagi terbagi secara Sunni-Syiah, tetapi Muslim Asli dan Muslim Politis. Demikian pula Islam Nusantara bukan lagi terbagi Muslim abangan dan Muslim santri seperti penelitian Clifford Geertz, tetapi Muslim Pancasilais dan Muslim Politis.

Adalah benar bahwa agama dan politik akan selalu berkawan mesra, maka artinya adalah sebagai orang yang mencintai NKRI dan selalu siap sedia membela negara, maka Muslim Nusantara Pancasilais artinya muslim Indonesia yang menempatkan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum, termasuk untuk memberikan solusi bagi hak dan kewajiban urusan privat beragama. Tentu hal ini mungkin dianggap terlalu ideal, seperti bahasa dari Dosen Filsafat Kemuhammadiyahan Dr. Ma’sud, M.Ag. bahwa idealisme praktek beragama di Indonesia itu seperti “panggang jauh dari api”. Terlebih selalu ada Muslim-Muslim Politis yang memutus mata rantai sejarah kebangsaan dengan klaim-klaim ideologis Islamis yang berdasarkan Cucoklogi.

Sebagai Minoritas, penulis menyadari posisi penulis amat lemah untuk mengkritik para Muslim Politis tersebut, namun penulis memiliki semangat seperti Syeikh Mohammad Abduh untuk terus menuliskan ide-ide terbaharukan tentang Muslim Nusantara Pancasilais dan terus berguru dengan pencetus ide “Muslimah Reformis”: yang kami sayangi dan hormati Prof. Siti Musdah Mulia.

Penulis kembali mengingatkan ide penulis tentang “Indonesia Merkader (Merdeka, Demokrasi, dan Modern)” yang pernah penulis cetuskan pada Lomba Esai FGK UI Tahun 2015. Sejatinya ide itu amat pas apabila dikaitkan dengan Muslim Nusantara Pancasilais, bahwa Muslim Mayoritas yang akan dicintai oleh orang Minoritas adalah Muslim yang mendukung 3 (tiga) ide besar: Kemerdekaan, Demokrasi, dan Modernisme. Jadi harapan orang minoritas terhadap konsep Islam Nusantara adalah sebagai gagasan Islam yang dirawat oleh para Ulama Muslim yang berkeadaban dengan ajaran-ajaran yang mempertahankan ide Kemerdekaan, Demokrasi, dan Modernisme. Apabila dikaitkan dengan konstelasi politik dunia dan lingkungan strategis pertahanan negara saat ini, maka negara Indonesia membutuhkan Muslim-Muslim Pancasilais yang turut membawa citra Indonesia di mata dunia, mampu membela tanah air, memperjuangkan nilai-nilai keadilan sosial, cinta produk dalam negeri, dan turut membangun kehidupan ekonomi bangsa, sesuai dengan kapasitas dan profesinya masing-masing.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *