Portal Rujukan Studi Maqasid Syariah

 

Maqasid

Ijtihād Maqāṣidī, Imam Mālik, dan Hak-hak Perempuan

2 Mins read

Akhmad Sulaiman (Mahasiswa Doktoral Studi Islam UIN Sunan Kalijaga; Pejuang Disertasi Maqasid Syariah)

Isu pemerjuangan hak-hak perempuan di kalangan Muslim beru populer setelah kemunculan tokoh-tokoh feminis seperti Riffat Hassan (l. 1943), Azizah al-Hibri (l. 1943), Amina Wadud (.l 1952), Asma Barlas (l. 1950), dan Fatima Mernissi (w. 2015). Mereka menggugat pembacaan ulama klasik terhadap agama (baca: Islam) yang tanpa sadar berpijak pada nilai-nilai patriarki. Oleh sebab itu, para pemikir feminis ini merumuskan jalan epistemologi baru untuk memberikan penyegaran terhadap cara baca agama yang kurang memperhatikan hak-hak perempuan.

Lantas, apakah khazanah pemikiran klasik sama sekali mengabaikan hak-hak perempuan? Saya menjawab tidak. Imam Mālik (w. 179 H) merupakan tokoh yang layak disebut dalam isu ini. Meskipun pemikirannya tidak seprogresif para pemikir feminis kontemporer, setidaknya imam ahli Madinah ini telah menjadi tokoh paling progresif di masanya mengenai isu hak-hak perempuan.

Salah satu hak perempuan yang diperjuangkan oleh imam Mālik adalah hak memperoleh warisan seorang istri dari suaminya. Dalam teori umum fikih mawaris, seorang istri berhak memperoleh harta warisan dari suaminya yang telah meninggal adalah atas dasar ikatan perkawinan. Hak ini bisa gugur begitu saja jika suami tiba-tiba menalaknya. Untuk mengantisipasi hal ini, imam Mālik melakukan apa yang para akademisi kontemporer sebut sebagai Ijtihād Maqāṣidī.

Ijtihād Maqāṣidī, sebagai mana Nūr al-Dīn al-Khādimī definisikan dalam buku al-Ijtihād al-Maqāṣidī, merupakan upaya pemerhatian dan pelestarian tujuan-tujuan syariat dalam proses perumusan hukum Islam. Ijtihad ini dapat dilakukan melalui tiga jalan istidlāl yaitu istiḥsān (beralihnya mujtahid dari kias yang nyata ke kias yang samar karena kias yang samar dianggap lebih memiliki kemaslahatan), istislāḥ (pemutusan hukum yang berorientasi pada kemaslahatan-kemaslahatan yang tidak bertentangan dengan Alquran dan hadis), dan sadd al-dzarāah (penutupan jalan yang zahirnya adalah maslahah atau, setidaknya, boleh namun jika tidak ditutup,ia bisa menimbulkan kemudaratan).

Dalam kasus mengenai hak waris istri ini, imam Mālik menjadi tokoh paling berani daripada para mujtahid lain dengan mengambil jalan sad al-dzariah. Beliau memperhatikan apa yang para mujtahid lain tidak perhatikan. Beliau khawatir suami yang hampir meninggal bisa saja melakukan ḥilah (merekayasa hukum) agar istrinya tidak mendapatkan warisan dan semua peninggalannya dilimpahkan kepada anak-anaknya. Oleh sebab itu, beliau melarang suami yang sedang sakit (hampir meninggal) menalak istrinya. Jika sampai ini terjadi, beliau berpendapat bahwa istri tetap akan mendapat harta warisan.

Dalam al-Muwaṭa’ beliau mengatakan:

“Jika suami yang sedang sakit (hampir meninggal) menalak istrinya sebelum ia mengumpulinya, maka istri berhak atas setengah mahar, harta warisan dan tidak ada idah baginya. Adapun jika suami sudah mengumpuli istrinya kemudian menalaknya, maka istri berhak atas keseluruhan mahar dan harta warisan.”

Dalam ijtihad ini, imam Mālik sama sekali tidak mendasarkan pendapatnya kepada penjelasan teks Alquran ataupun hadis karena keduanya memang sama sekali tidak menjelaskan. Akan Tetapi, beliau mendasarkan pendapatnya kepada apa yang teks-teks Alquran dan hadis inginkan yaitu perlindungan hak-hak istri yang merupakan bagian dari perlindungan kepemilikan (hifz al-mal) sebagai salah satu tujuan universal Islam yang niscaya (al-maqaāṣid al-‘āmah al-ḍarūriyyah). Menalak istri, sebagaimana dijelaskan dalam hadis, merupakan perbuatan yang diperbolehkan meskipun dibenci oleh Tuhan. Namun imam Mālik melarang perbuatan ini saat suami sedang sakit (hampir meninggal) karena ia dapat merampas hak-hak istri yang semestinya didapat. Jalan sad al-dzari’ah yang beliau ambil ini merupakan bentuk pemikiran feminis-maqīṣidī di masa di mana istilah bahkan feminisme belum digaungkan di Barat.

Related posts
Maqasid

Mengenal Maqasid al-Qur’an Badi’uzzaman Sa’id Nursi

4 Mins read
M. Nanda Fanindy al-Fateeh (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga; Redaktur maqasidcentre.id) Adalah sunah setiap peradaban memiliki masanya dan rentang waktunya. Jika kita…
Maqasid

Maqasid Ekonomi Syariah: Tujuan dan Aplikasi

7 Mins read
Judul               : Maqasid Ekonomi Syariah : Tujuan dan AplikasiPenulis             : Dr. Moh. Mufid, Lc., M.H.I,Penerbit           : Empatdua Media, MalangTebal               : 215 halamanTahun…
Fikih - Usul Fikih

Benarkah tidak Ada Dasar di dalam al-Qur’an dan Hadis tidak Islami?

5 Mins read
Dr. Holilur Rohman, M.H.I(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN SA, Redaktur Maqasid Centre) Terdapat banyak kesalahan yang terjadi di masyarakat, di mana…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *