Portal Rujukan Studi Maqasid Syariah

 

Maqasid

Maqasid Syariah dan Jihad Milenial

7 Mins read

Muhammad Solikhudin (Dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri)

Jihad milenial merupakan ikhitiar keluar dari dua arus yang saling berlawanan, yakni terlalu meremehkan dalam hal beragama dan terlalu rigid dalam mengaplikasikan agama. Jihad milenial merupakan kerja pikiran dan kerja hati untuk melawan kebodohan, kemiskinan dan perbaikan mutu pendidikan serta kesehatan.

Umat Islam yang mengatakan sebagai umat moderat, harus dapat merealisasikan jihad milenial ini dengan kesadaran yang utuh. Banyak yang beranggapan Islam identik dengan aksi teror dan kekerasan. Oleh karena itu, umat Islam dituntut melakukan perubahan cara berpikir itu dengan jalur dialog dan improvisasi, sehingga terbangun cara berpikir yang baik dan berimplikasi pada peradaban adiluhung.

Kembali Menafsirkan Makna Jihad

Membahas perkembangan dialektika hubungan antar agama di Indonesia mengarah pada kesimpulan ekstrim bahwa agama tidak lagi mampu melahirkan masyarakat yang harmonis, apalagi kreatif. Agama yang secara substansi merupakan kumpulan dokrtin yang mendamaikan berubah menjadi ajakan kekerasan. Agama yang secara hermeneutis adalah kumpulan teks yang membebaskan bermetamorfosis menjadi gumpalan yang rigid (Chafid Wahyudi: 2013, 1) Terkait hal yang semacam ini mengingatkan penulis tentang masyarakat chaos model Hobbes yang ditandai peperangan terus-menerus antar manusia, tidak sepenuhnya khayalan (Abdelwahab El-Affendi: 2012, 81) . Ungkapan tersebut bisa saja terjadi, ketika ada nuansa pendangkalan makna tentang jihad.

Apabila dicermati, pendekatan dengan konsep jihad milenial yang menyesuaikan dengan lokalitas dan waktu yang mengusung moderasi wajah Islam yang rahmat dan ramah di tingkat praksis sosial seiring dengan keragaman masyarakat Indonesia merupakan pendekatan yang menyegarkan. Jihad dalam konteks saat ini adalah upaya untuk mengontrol diri sendiri dari hal-hal yang tercela, menampilkan wajah Islam yang ramah dan rahmat bagi alam semesta. Inilah yang dimaksud dengan jihad milenial.

Gagasan jihad milenial pada kenyataannya ingin menolak proyek autentifikasi teks agama secara rigid, seperti yang diinginkan oleh sebagian gerakan Islam radikal di Indonesia dan belahan dunia lainnya yang lebih mengedepankan pandangan-pandangan dunia lebih ekstrim dan kaku (Ahidul Asror: 2012, 19). Sejalan dengan jihad milenial, dalam UUD 1945 terdapat 7 pasal yang mengatur langsung Hak Asasi Manusia. Meskipun hanya 7 pasal, namun pasal-pasal tersebut merupakan hal-hal pokok (Titik Triwulan Tutik: 2011, 296). Bahkan, dalam hal perlindungan HAM, amandemen UUD 1945 memberikan jaminan yang lebih komperhensif. Hak Asasi Manusia di sini dapat dimaknai sebagai hak untuk berpendapat, hak hidup dan hak-hak lain yang sesuai paham keagamaan manusia. Untuk itu hendaknya tawaran jihad milenial dilabuhkan dalam lubuk hati manusia kekinian, kemudian diaksikan secara humanis dalam ranah publik. Bila terdapat Islam radikal yang menampilkan kekerasan sehingga tidak ada nuansa harmonis, apalagi kreatif, maka hal tersebut hendaknya dibendung dalam rangka mengindari wajah Islam yang kehilangan keramahannya.

Berdasarkan pemahaman di atas, umat muslim harus mengembangkan kesetaraan kerena manusia dalam perspektif teologi Islam yang Qur’ani adalah setara. Pada saat yang sama, mereka dituntut untuk mengembangkan sikap saling menghormati antar sesama umat manusia dan menyikapi perbedaan yang secara intrinsik terdapat pada manusia itu sebagai anugrerah ilahi untuk memperkaya wawasan dan mempererat kerjasama antar mereka. Fazlur Rahman menyatakan, esensi keseluruhan hak-hak asasi manusia yang berulangkali dinyatakan dan didukung oleh al-Qur’an adalah kesamaan diantara semua ras. Hal ini menunjukkan umat Islam dilarang bersikap eksklusif, angkuh dan sejenisnya. Dengan ungkapan lain, pluralisme menjadi keniscayaan yang harus dibangun dan dikembangkan oleh setiap muslim dan komunitasnya (Abd. A’la: 2005, 55-56).

Aksiologi yang bernuansa humanitarianistik-teologis semacam itu yang terus membayang-bayangi atau bahkan menjadi etos keseluruhan konsep dan pemikiran Fazlur Rahman, khususnya dalam bidang teologi. Ia benar-benar meyakini dan dapat membuktikan bahwa Islam merupakan gerakan aktual dalam sejarah umat manusia dan kehidupannya; bukan untuk merusak kehidupan dan lingkungan, apalagi menghancurkan manusia dan masa depannya.

Kondisi yang semacam ini membutuhkan adanya upaya penafsiran kembali, penemuan kembali (recovery) dan reinterpretasi atas ajaran-ajaran, praktik-praktik atau tradisi-tradisi yang memiliki hubungan dengan agama dan jihad milenial. Misalnya bagaimana melakukan reinterpretasi terhadap konsep jihad sehingga ia dapat lebih apalikatif dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Yang jelas dalam Qur’an sendiri, penggunaan kata jihad terdapat begitu banyak, sebagaimana hasil pengamatan sekilas dari penulis dan biasanya diartikan dengan perang. Lebih jauh lagi dari makna dasar (perang) ialah bagaimana umat beragama menafsikan kembali kata perang secara fisik itu dengan melihat masyarakat sekarang yang sudah berdamai dalam bingkai negara-bangsa. Oleh karena sebagaimana disebutkan di atas, kata jihad lebih menarik jika dimaknai kerja otak dan kerja hati, sehingga muncul kecerdasan secara intelektual, emosional dan spiritual. Implikasi dari semua itu adalah muncul tatanan masyarakat yang berkeadilan dan berkarakter adiluhung.

Maqasid Syariah Sebagai Pendekatan dalam Jihad Milenial

Penulis menggunakan teori maqāṣid Jasser Auda dalam menganalisis kajian jihad milenial. Jasser Auda menggunakan enam fitur dalam maqāṣidnya, yakni, kognitif (pemahaman rasio), kemenyeluruhan (wholeness), keterbukaan, hierarki-saling berkaitan, multi dimensionalitas, dan terakhir kebermaksudan (purposefulness) (Jasser Auda: 2007, 50). Adapun fitur yang dipakai penulis adalah kognitif (pemahaman rasio), multi dimensionalitas dan kebermaksudan (purposefulness). Selanjutnya tiga fitur ini dihubungkan dengan jihad milenial.

Apabila fitur kognitif ditarik ke kajian jihad milenial, maka hal ini sudah sesuai, karena jihad milenial masuk ke ranah fikih siyāsah yang turunanya berupa fikih kebangsaan. Perlu diketahui, bahwa jihad milenial yang dibahas dalam tulisan ini termasuk dalam hukum Islam yang berupa fikih, lebih tepatnyafikih siyāsah, karena aksioma-aksioma hukumnya masih dijelaskan secara global dalam Kitab Suci. Jihad milenial merupakan bagian dari fikih siyāsah, karena semua keputusan yang diambil oleh semua kalangan, baik pemerintah, masyarakat dan lembaga sipil berdasarkan hasil pemikiran manusia untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis dan terhindar dari kerusakan. Pada aspek yang lain, penerapan keputusan yang diambil semua kalangan ini tentu sejalan dengan ajaran Islam, agar cita-cita menuju masyarakat madanidapat tercapai.

Jika fitur multidimensionalitas ditarik ke kajian jihad milenial, maka ketika menemukan aksioma, baik rasional atau normatif, harus diupayakan untuk dikompromikan atau dicari titik temu terlebih dahulu. Hal ini sebagaimana keterangan di atas, bahwa  fenomena, bahkan ide-ide, dengan tendensi-tendensi yang bertentangan biasanya dilihat dalam konteks satu dimensi saja, sehingga tampak saling berlawanan daripada saling melengkapi dan dianalisis sebagai perjumpaan yang menyenangkan. Ayat-ayat tentang jihad fisik merupakan ajaran yang sekunder atau dilakukan dalam kondisi darurat dan ayat-ayat tentang perdamaian atau kasih sayang merupakan yang utama dan harus diterapkan terlebih dahulu.

Contohnya adalah ketika ada dua ayat atau lebih yang kontadiktif, seperti satu ayat menyerukan jihad dan ada ayat lain yang menyerukan menyebarkan rahmat kepada sesama manusia.

وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ لِلَّهِۖ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ فَلَا عُدۡوَٰنَ إِلَّا عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ ١٩٣

193. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

Ayat ini menjelaskan tentang jihad fisik yang yang jika ditarik relevansinya pada saat ini maka tidak sesuai dengan zaman dan tempatnya. Dengan demikian ayat ini dapat digeser ke pemaknaan lain yang lebih dinamis seperti penyebaran Islam secara rahmatan lil ‘alamin yang dinamakan dengan jihad pola pikir (kerja otak) dan pengolahan diri dari hal-hal yang destruktif (kerja hati). Hal ini sesuai dengan esensi ajaran Islam yang bermuatan kebaikan dan kemaslahatan bagi semua manusia.

Islam hadir dengan membawa ajaran kebaikan bagi manusia. Kebaikan dan keburukan merupakan dua hal yang berbeda. Rekonderasi akal, hati nurani, dan pengalaman manusia dapat dipakai untuk mengetahui baik dan buruk. Aplikasi dakwah Islam disebarkan dengan penuh kelembutan, sebagaimana dakwah walisongo, Islam juga disebarkan dengan kasih sayang. Jika tidak demikian, maka yang lahir adalah wajah Islam yang menebarkan laknat pada semesta dengan teriakan takbir dengan hati penuh kepongahan dan teriakan kafir terhadap mereka yang beragama. Sudah barang tentu hal itu bertentangan dengan ajaran Islam yang sejatinya. Kelembutan dan kasih sayang akan mengangkat  martabat kemanusiaan dengan membantunya mencapai kehidupan terbaik di muka bumi. Visi dan misi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam ditegaskan dalam QS al-Anbiya’ 21: 107:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ ١٠٧

107. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam

Makna ayat tersebut adalah “engkau tidak diutus wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam, manusia dan jin, karena ajaran yang diturunkan kepadamu adalah sebab kebahagiaan mereka dan memastikan kebaikan mereka di dunia dan akhirat. Siapa yang menerima rahmat dan mensyukurinya, maka dia akan beruntung di dunia dan akhirat, dan siapa yang menolak dan melanggarnya, maka kerugian dunia dan akhirat menimpanya. Nabi bersabda, “sesungguhnya aku diutus bukan sebagai tukang laknat, tapi aku diutus sebagai rahmat (HR Muslim). Rahmat yang menjadi metode dan tujuan dakwah Islam ini diaplikasikan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Hal ini berarti, bahwa Nabi diutus untuk membawa rahmat bagi semesta alam. Adapun manusia diperintah meniru sifat Nabi tersebut, dengan harapan terwujud tatanan yang menyejukkan dalam setiap sendi kehidupan.

Pada ayat yang lain juga dijelaskan pentingnya menyebarkan Islam kasih sayang

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ ١٥٩

159. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS. 3:159)

Dakwah Islam dilakukan dengan kelembutan dan mempermudah dalam berinterkasi, tidak dengan kejelekan akhlak, keras watak, keras hati. Jika dilakukan dengan cara jelek tersebut, maka manusia tidak menerima, namun lari dari Islam (baca: Islamophobia). Dakwah Islam harus dilakukan dengan suka memaafkan, bermusyawarah, dan berpasrah diri kepada Allah Swt.

Kelembutan, kasih sayang, dan keteladanan yang menjadi strategi dakwah Islam sebagai pengejawantah dari rahmatan lil ‘alamin inilah yang menyebabkan Islam mengedepankan pembentukan etika individu dan sosial dalam internalisasi dan sosialisasi doktrinnya kepada masyarakat. Inilah cara efektif dalam proses transformasi sosial yang bisa diterima oleh semua kalangan. Kekerasan dan pemaksaan kehendak, baik secara fisik yang bahkan mengarah pada pembumi-hangusan manusia dan masa depannya hanya akan membuat orang lain semakin menjauh dari Islam dan menganggap Islam sebagai agama terbelakang yang tidak mengenal peradaban (primordial), apalagi dengan menerapkan konsep negara yang absurd seperti khilafah, umpamanya. Jika demikian, Islam bukan agama yang berkemajuan yang selalu menyediakan solusi dan terus berkembang seiring berkembangnya zaman (kosmopolitan) dan toleran. Tidak demikian bukan!

Islam sebagai agama yang diturunkan oleh Allah untuk menebarkan rahmah bagi semua alam. Kasih sayang merupakan kelembutan hati dan kecenderungan untuk memberikan ampunan dan memberikan kebaikan kepada orang lain. Nabi Muhammad diutus di muka bumi sebagai bukti kasih sayang Allah kepada umat manusia. Nabi Muhammad bertugas untuk mengubah manusia yang tidak pantas menjadi pantas. Perilaku tidak pantas antara lain: mengahabiskan waktu dengan perilaku yang tidak ada gunanya, semisal merusak lingkungan, membunuh, menindas yang lemah, tidak mempunyai tanggung jawab, dan lain sebagainya.

Semua perilaku itu tidak sesuai dengan martabat kemanusiaan. Islam sebagai kasih sayang bagi seluruh alam dibangun dengan pertimbangan nalar dan mengikuti kata hati. Manusia sebagai wakil Allah di muka bumi memiliki amanah yang besar yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Islam sebagai kasih sayang bagi semua alam diwujudkan dengan memberi contoh yang baik, seperti diketahui ungkapan lisanul hal afsahu min lisanil maqal, Islam juga diejawantahkan dengan kelembutan dalam bergaul, dan ketegasan dalam menegakkan aturan. Peningkatan spritualitas, keadilan sosial, kebahagiaan semua orang, dan peningkatan martabat kemanusiaan adalah fokus utama Islam sebagai rahmah. Hal ini dilakukan Nabi Muhammad dengan penuh kesungguhan untuk mengubah keadaan yang jelek menjadi lebih baik, tanpa memaksa-maksa.

Apabila fitur kebermaksudan ditarik ke kajian jihad milenial, makatujuan dari pembentukan kerja otak dan kerja hati adalah munculnya tatanan masyarakat yang berkeadilan, bermartabat, harmonis dan terbangunnya peradaban adiluhung. Tentunya hal ini selaras dengan tujuan Negara Indonesia dan semua agama yang ada di Indonesia.

Muhammad Solikhudin (Dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri)

Related posts
Maqasid

Mengenal Maqasid al-Qur’an Badi’uzzaman Sa’id Nursi

4 Mins read
M. Nanda Fanindy al-Fateeh (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga; Redaktur maqasidcentre.id) Adalah sunah setiap peradaban memiliki masanya dan rentang waktunya. Jika kita…
Maqasid

Maqasid Ekonomi Syariah: Tujuan dan Aplikasi

7 Mins read
Judul               : Maqasid Ekonomi Syariah : Tujuan dan AplikasiPenulis             : Dr. Moh. Mufid, Lc., M.H.I,Penerbit           : Empatdua Media, MalangTebal               : 215 halamanTahun…
Maqasid

Wasathiyyah Sebagai Cita Rasa Maqasid Syariah

3 Mins read
Dr. Muhammad Solikhudin, M.H.I (Dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri) Metodologi Maqasid Syariah sejatinya bernuansa moderatisme. Hal ini sejalan dengan paham Islam Nusantara…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *