Portal Rujukan Studi Maqasid Syariah

 

Maqasid

Maqasid Syariah sebagai Metodologi Pembaruan dalam Diskursus Islam

3 Mins read

M. Nanda Fanindy al-Fateeh (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Redaktur maqasidcentre.id)

Maqasid syariah merupakan salah satu metodologi penting untuk melakukan pembaruan hukum Islam. Sifatnya yang dinamis dapat menjadikan hukum Islam keluar dari dimensi kelokalannya, sehingga ajaran Muhammad Saw dapat mudah berasimilasi dengan berbagai budaya.

Contoh pengaplikasian maqasid syariah dalam kasus ini adalah pemakaian jilbab. Sudah menjadi rahasia umum bahwa jilbab merupakan busana yang menjadi standar kesopanan muslimah, lebih-lebih bagi negara dengan penduduk mayoritas muslim. Busana ini terkadang menjadi masalah jika dipakai ditempat yang berpenduduk mayoritas non-muslim. Bahkan dibeberapa tempat, jilbab dilarang, karena dianggap menonjolkan sisi prifatif ke ruang publik. Untuk mengatasi permasalahan ini, Yusuf al-Qardhawi melanjutkan gagasan Muhammad al-Ghazali dengan membedakan antara wasîlah (media) dan ghâyah (tujuan). Dan menurut beliau, jilbab merupakan wasîlah untuk menjaga kehormatan. Dengan demikian, wasîlah mempunyai sifat tidak terbatas sesuai dengan nalar budaya masing-masing.

Selain Al-Qardhawi, Thaha al-Alwani juga mengembangkan teori diferensiasi wasîlah dan ghâyah dalam perihal persamaan gender. Menurut beliau, persaksian perempuan yang disyaratkan harus dua orang sebagai bandingan dari satu lelaki merupakan wasîlah. Kesimpulan ini didapat dari analisa sejarah masyarakat Arab pra-Islam yang memperlakukan perempuan seperti ‘barang’. Spirit persamaan gender yang diusung Islam, dengan mencoba membawa perempuan ke ruang publik dilakukan secara bertahap. Dengan demikian, jika perempuan modern sudah diakui eksistensinya, maka persaksian satu perempuan dapat disamakan dengan satu lelaki.

Maqasid syariah juga dapat dijadikan jalan tengah untuk menyelesaikan konflik Sunni-Yyiah yang sering terjadi di berbagai belahan bumi. Seorang pemerhati ilmu kalam, pasti akan berkesimpulan bahwa sebenarnya perbedaan mencolok yang ada pada Sunni-Yyiah bukanlah pada dimensi akidah, melainkan pada dimensi politik. Walaupun demikian, perpecahan tersebut semakin menjalar ke ranah peradilan, peribadatan dalam masjid, bahkan sampai pada interaksi sosial keseharian, sehingga tidak jarang berujung konflik berdarah di sejumlah negara. Peran maqasid syariah di sini adalah menonjolkan persamaan keduanya, di mana telah diketahui bahwa keduanya mengangkat tema yang sama dalam maqasid syariah, seperti landasan ijtihad, nilai-nilai, hak-hak dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, keduanya juga merujuk para pakar fiqh dan literatur yang sama seperti al-Juwaini dengan al-Burhân-nya, al-Ghazali dengan al-Mustashfâ-nya dan al-Syatibi dengan al-Muwâfaqât-nya.

Maka tidaklah berlebihan, apabila maqasid syariah merupakan salah satu landasan penting dalam ijtihad kontemporer. Salah satu jalan yang ditawarkan maqasid adalah dengan menempatkan teks al-Quran atau hadis yang berseberangan, dengan membaca konteks yang sedang berlangsung. Dalam menghadapi kondisi seperti ini, banyak para pakar pikir yang lebih menggunakan metode naskh (menghilangkan fungsi hukum teks yang datang lebih dahulu dengan adanya teks lain yang datang kemudian), atau tarjîh (memilih satu dari beberapa teks dengan berbagai pertimbangan) dari pada al-Jam’u (mengumpulkan keduanya).

Jasser Auda memberi contoh penggunaan metode al-Jam’u pada beberapa kasus. Pertama, hadis-hadis yang berkaitan dengan gerakan-gerakan shalat ataupun bacaan-bacaanya. Jika penafsiran dihegemoni oleh naskh atau tarjîh, maka akan rawan menimbulkan konflik sektarian berkepanjangan. Tetapi, jika metode al-Jam’u diketengahkan dengan kacamata maqasid syariah, maka kita dapat kita pahami bahwa Nabi Saw melakukan ibadah dengan berbagai macam cara. Kedua, hadis-hadis yang berkaitan dengan wali nikah seorang perempuan. Dalam permasalahan ini, terdapat dua narasi hadis yang berbeda yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, di mana salah satunya melarang perempuan manapun untuk menikah tanpa wali lelaki, sedangkan riwayat lainnya memperbolehkan perempuan yang pernah menikah untuk menikah tanpa wali. Dalam permasalahan yang sama juga terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa Aisyah RA tidak mensyaratkan wali nikah pada perempuan. Dalam perspektif Jasser Auda, hadis-hadis ini dapat dipahami dengan mengedepankan kacamata maqasid, bahwa perbedaan perkataan Nabi ini terjadi karena beliau menghargai kearifan lokal.

Seperti yang disinggung oleh mazhab Hanafiyah, bahwa perempuan Arab yang menikah tanpa wali lelaki adalah perempuan yang tidak punya malu. Ketiga, ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan pelarangan khamr. Dengan pendekatan maqasid, ayat-ayat tersebut tidak dipahami sebagai nasîkh-mansûkh, tetapi lebih dipahami sebagai gradualisme perubahan. Dengan demikian, ayat yang di-nash menurut sebagian pakar fiqh, tetap berfungsi sebagaimana mestinya jika ada dalam konteks yang sama: saat objek masih dalam keadaan labil iman. Menutut Jasser Auda, mengedepankan metode al-Jam’u dengan kacamata maqasid syariah akan lebih membawa banyak maslahat dari pada naskh atau tarjîh, karena pada dasarnya, metode-metode tersebut hanyalah produk olah ijtihad manusia, bukanlah produk wahyu. Maqashid syariah merupakan salah satu metodologi yang dimiliki Islam, yang selalu menunjukkan laju positifnya. Hal ini sangat wajar, karena selain entitas tersebut lahir dari rahim Islam sendiri, tangan-tangan  kreatif pembawanya yang selalu bersih dari perbuatan fasiq, membuat maqashid mudah diterima banyak kalangan. Peran maqashid syariah sangat besar dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan global seperti bias gender, toleransi antar sekte maupun antar umat beragama dan hak asasi manusia. Meskipun demikian, hemat penulis, sebelum masuk dalam dimensi maqashid, seorang harus memahami secara benar teks-teks suci, baik al-Quran maupun hadis. Selain itu, interpretator teks juga harus memahami psikologi, sosilogi dan antropologi, sehingga maqashid syariah tidak ternodai oleh kepentingan sepihak, yang justru keluar dari prinsip-prinsip maqasid.

Related posts
Maqasid

Mengenal Maqasid al-Qur’an Badi’uzzaman Sa’id Nursi

4 Mins read
M. Nanda Fanindy al-Fateeh (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga; Redaktur maqasidcentre.id) Adalah sunah setiap peradaban memiliki masanya dan rentang waktunya. Jika kita…
Maqasid

Maqasid Ekonomi Syariah: Tujuan dan Aplikasi

7 Mins read
Judul               : Maqasid Ekonomi Syariah : Tujuan dan AplikasiPenulis             : Dr. Moh. Mufid, Lc., M.H.I,Penerbit           : Empatdua Media, MalangTebal               : 215 halamanTahun…
Maqasid

Islam Wasathiyyah dalam Bingkai NKRI Perspektif Maqasid al-Syari’ah

3 Mins read
Dr. Muhammad Solikhudin, M. H.I. (Dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri, Jawa Timur) Gagasan Islam wasathiyyah merupakan ikhtiyar dalam pembangunan kepribadian dan karakter…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *