Portal Rujukan Studi Maqasid Syariah

 

Maqasid

Peran Moralitas Agama dan Maqasid Syariah dalam Lembaga Keuangan Syariah

4 Mins read

Muhammad Solikhudin (Dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri)

Kontribusi moralitas agama dan Maqasid Syariah dalam perbankan syariah maupun lembaga keuangan lainnya adalah keniscayaan. Untuk merealisasikan cita-cita kesejahteraan masyarakat sebagai manusia yang saling tolong menolong, moralitas agama dan Maqasid Syariah harus ikut serta mengurus keuangan syariah. Maka penilaian berbasis moral dan Maqasid Syariah dengan cara kerja filter menarik untuk diterapkan, cara ini membutuhkan dorongan yang kuat dari pakar ekonomi Islam dan tokoh agama yang dapat menguatkan perasaan sosial di antara manusia.

Kekuatan Maqasid Syariah dan moral mampu meningkatkan solidaritas sosial. Perlu diketahui juga, peran tokoh agama mampu menguatkan rasa kewajiban sosial. Sejauh sejarah kehidupan manusia sudah ditemukan contoh yang signifikan yang mengarah, bahwa masyarakat yang berhasil adalah masyarakat yang mampu merealisasikan moral agama dan Maqasid Syariah.

Ajaran ekonomi yang bermuatan nilai-nilai agama merupakan landasan utama menggapai kesejahteraan kehidupan yang menyeimbangkan antara jasad dan ruhani, menuju manusia paripurna di hadapan Tuhannya. Manusia, apabila kebutuhan hidupnya, baik pribadi maupun keluarga terpenuhi dan pada saat yang sama merasa aman, baik dirinya dan rezekinya, maka ia akan hidup dengan ketentraman, menjalankan ibadah dengan khusyu’. Dalam konteks seperti ini, manusia terbebas dari kelaparan dan dirinya aman dari rasa takut. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran utuh bagi manusia, bahwa Allah menciptakan manusia bukan untuk keperluan ekonomi, namun problematika ekonomi diciptakan untuk kepentingan manusia dan keyakinan serta cara manusia untuk memecahkan masalah ini adalah keniscayaan.

Islam merupakan ajaran yang berdimensi universal dan selalu selaras di setiap zaman dan tempat. Islam berkeinginan untuk membangun pasar yang manusiawi, seperti orang kaya bersedia menyisihkan hartanya dan diberikan kepada orang miskin, orang dewasa mengasihi yang kecil, orang kuat membantu yang lemah, orang yang belum tahu mau belajar kepada orang yang pandai dan orang-orang yang zalim harus ditegur dengan cara-cara yang baik. Tatanan yang semacam ini sesuai dengan al-Qur’an surat al-Anbiya’ ayat 107 sebagai berikut:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (١٠٧)

107. dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Berlandaskan ayat di atas, pasar yang terbuat harus dihindarkan dari peradaban materialisme yang diibaratkan hutan rimba, yakni yang kuat memakan yang lemah, yang besar berlaku sewenang-wenang kepada yang kecil. Yang dapat bertahan adalah mereka yang kejam dan punya kekuatan, bukan orang baik yang ideal. Harapan utama dari penerapan ayat itu adalah terwujudnya kesejahteraan dengan tata cara pasar dan peradaban manusiawi.

Cara merealisasikan pasar yang baik adalah dengan menjalankan keragaman, kreativitas dan usaha-usaha produktif serta inovatif. Dengan terselenggaranya pasar yang baik ini diharapkan muncul keadilan dan segala aspek yang dibutuhkan dalam dunia pasar.

Pasar yang baik juga berkelindan dengan para peserta, sehingga harus ada teguran dan sanksi bagi para perlaku usaha, apabila tidak menghormati hak dan kebutuhan orang lain serta menahan keinginan pribadi untuk melewati batas yang telah disepakati oleh masyarakat sebagai personal-personal pelaku usaha. Hal ini dilakukan sesuai dengan prinsip ekonomi qadr al-hajat (sesuai kebutuhan) yang diselarkan dengan manusia. Manusia merupakan makhluk yang terbatas dalam hal kemampuan, maka pencarian ekonomi juga dilarang melampaui batas.

Pasar yang baik harus dijauhkan dari budaya moral yang tidak sesuai dengan ajaran agama, agar tidak mudah dihancurkan. Tidak diterapkan dengan aliran individualisme yang tidak berperikemanusiaan yang mengarah kepada kapitalisme yang sewenang-wenang. Dihindarkan dari penindasan yang dilakukan oleh elit yang tidak memanusiakan manusia, seperti komunisme. Segala hal ini merupakan penyakit yang harus dihindari.

Kejahteraan dalam konteks terealisasinya ekonomi yang sehat tidak hanya berlandaskan konsepsi hedonis dan materialis, namun juga merealisasikan kesejahteraan lahir batin yang memiliki spektrum keruhanian dan kemanusiaan. Inilah yang dinamakan dengan Maqasid Syariah yang harus berdiri tegak dengan klaim universal yang bertujuan untuk kebahagiaan manusia, baik di dunia dan akhirat. Moralitas agama hadir sebagai pengawal ekonomi sehat yang merupakan sumber inspirasi dari semua disiplin ilmu pengetahuan.

Hal ini menunjukkan spektrum dari tujuan kesejahteraan, tidak hanya problematika kesejahteraan ekonomi, namun juga problematika persaudaraan manusia, keadilan, kesakralan kehidupan, kehormatan personal, kehormatan harta, ketentraman jiwa raga, kebahagiaan dan .kerukunan hidup berkeluarga dan bermasyarakat.

Unsur materi sejatinya tidak dilupakan. Materi berguna bagi kesejahteraan dan kemajuan manusia, pendorong kehidupan yang baik untuk manusia dan menjadi stimulan manusia dalam menjalankan ibadah kepada Tuhan. Maka menyeimbangkan kesejahteran dunia akhirat menjadi ladang garap Islam yang mementingkan kehidupan dunia dan kehidupan yang lebih baik dan lebih kekal di akhirat nanti.

Nalar-nalar materialisme berkembang untuk memenuhi syhawat hedonistis yang tidak terkendali. Kesukaan materi menjadi tujuan paling akhir dan diklaim sebagai surga yang diharapkan. Ekonomi yang berlandaskan moralitas agama dan Maqasid Syariah memiliki lanskap yang menarik, hidup sejahtera merupakan tujuan untuk meningkatkan spiritualitas menuju manusia paripurna di hadapanNya. Materi dijadikan perantara untuk menggapai kehidupan yang lebih kekal, yakni akhirat.

Islam juga mengakui kebebasan kepemilikan. Hak milik ini sesuai dengan nalar maqashidy dan harus diimbangi dengan moralitas agama. Dengan nalar ini, kepemilikan harta harus diperoleh dengan jalur yang dibenarkan oleh agama. Cara-cara yang halal yang telah dijelaskan oleh Allah, Rasulullah dan Ulama agar mendapatkan keberkahan. Mengembangkan harta juga harus dilakukan dengan cara-cara yang halal. Pada saat yang sama, Islam melarang manusia membuat kebinasaan di muka bumi. Pengembangan kepemilikan harta tidak boleh bertentangan dengan moralitas agama yang diibaratkan seperti hati manusia dan Maqasid Syariah yang diibaratkan seperti akal manusia. Nalar dilabuhkan seperti ini, meniscayakan manusia untuk menghindari jual beli benda-benda yang diharamkan, karena berpotensi menimbulkan kerusakan, baik itu bagi kesehatan, akal, agama dan etika-moral.

Oleh karena itu, pasar yang baik sejatinya membutuhkan dasar yang kokoh yang bermuatan nilai-nilai moralitas agama sebagai sumber inspirasi dan Maqasid Syariah sebagai disiplin ilmu yang memberikan pencerahan bagi umat manusia. Misalnya, bagaimana mendekati pasar yang baik dengan pendekatan sistem Jasser Auda dengan beberapa fitur, seperti cognitive nature (pemahaman rasio) yang diperoleh dari pengalaman yang utuh sehingga memunculkan temuan fikih pasar yang baik. Selanjutnya fitur wholeness (kemenyeluruhan) juga dipandang penting, seberapa jauh manusia memahami ayat-ayat serta hadis yang berkaitan dengan pasar yang baik dihubungkan dengan konteks saat ini, misalnya era digital yang menuntut manusia untuk berinteaksi dengan dunia teknologi dan juga pemahaman kaidah fikih dan usul fikih yang dihubungkan dengan alasan hukum yang disatukan dengan hikmah hukum. Tidak hanya berhenti di sini, tetapi juga harus diterapkan secara berkelanjutan dan direlevansikan dengan zaman dan tempat.

Related posts
Maqasid

Mengenal Maqasid al-Qur’an Badi’uzzaman Sa’id Nursi

4 Mins read
M. Nanda Fanindy al-Fateeh (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga; Redaktur maqasidcentre.id) Adalah sunah setiap peradaban memiliki masanya dan rentang waktunya. Jika kita…
Maqasid

Maqasid Ekonomi Syariah: Tujuan dan Aplikasi

7 Mins read
Judul               : Maqasid Ekonomi Syariah : Tujuan dan AplikasiPenulis             : Dr. Moh. Mufid, Lc., M.H.I,Penerbit           : Empatdua Media, MalangTebal               : 215 halamanTahun…
Maqasid

Wasathiyyah Sebagai Cita Rasa Maqasid Syariah

3 Mins read
Dr. Muhammad Solikhudin, M.H.I (Dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri) Metodologi Maqasid Syariah sejatinya bernuansa moderatisme. Hal ini sejalan dengan paham Islam Nusantara…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *