Portal Rujukan Studi Maqasid Syariah

 

Maqasid

Sekilas Perjalanan Maqasid Syariah; Klasik sampai Modern

4 Mins read

M. Nanda Fanindy al-Fateeh (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga; Redaktur maqasidcentre.id)

Pembahasan terma maqasid syariah tidak akan lepas dari ushul fiqh. Hal ini terjadi karena maqasid syariah merupakan salah satu perpanjangan tangan dari cabang ilmu tersebut. Bahkan, pencetus pertama gagasan maqasid: al-Juwaini—setidaknya menurut Jasser Auda—mengetengahkan gagasannya melalui karya monumental al-Burhan fi Ushul al-Fiqh.

Sebelum membahas secara serius gagasan-gagasan brilian para pemikir Islam tentang maqasid syariah, ada baiknya kita merujuk kembali ke era sebelum diskursus Islam tersebut lahir, barang kali terdapat gagasan-gagasan serupa yang terlupakan. Jika kita merujuk ke abad 3 H, masa di mana belum terdengar nama al-Juwaini di teliga para pemikir Islam, kita akan menemukan al-Tirmidzi al-Hakim (w.296 H/908 M) dengan karyanya al-shalâh Wa Maqâshiduhâ”. Secara umum, buku ini berisi pembahasan-pembahasan tentang hikmah spiritual di balik gerakan-gerakan shalat dengan kecenderungan sufistik. Al-Hakim memberikan banyak contoh maqasid dalam shalat, seperti larangan untuk berpaling kepada selain Allah sebagai maksud dibalik menghadap kiblat, larangan untuk bersikap angkuh sebagai maksud dibalik takbir, perintah untuk selalu keluar dari lembah dosa sebagai maksud dari sujud dan seterusnya.

Pada lain kesempatan, al-Hakim juga menulis buku yang hampir sama, dengan judul “Al-Hajj Wa Asrâruhû”. Manuskrip-manuskrip tentang embrio maqasid syariah lainnya terdapat dalam buku Abu Zaid Al-Bakhli (w.322 H/933 M) dengan judul “Al-Ibânah ‘an ‘Ilal al-Diyânah”. Dalam bukunya, Al-Bakhli menjelaskan tujuan-tujuan syariat Islam dalam praktik muamalah seperti jual beli, sewa-menyewa dan sebagainya.  Al-Qaffal al-Kabir al-Syasyi (w.365 H/975 M) juga memberikan andil besar dalam gagasan awal maqasid klasik dengan karya “Makhâsin al-Syarîah”. Al-Syasyi memberikan porsi bab-bab yang sama seperti buku-buku fiqh klasik terdahulu dengan membahas thahârah, wudhu dan shalat secara urut. Hanya saja, beliau memperluas pembahasannya sampai kepada tujuan-tujuan dalam penetapan hukum Islam. Dalam memahami hukum-hukum Islam, Al-Syasyi melihat “al-Ma’âni (tujuan-tujuan)” dan “al-Asbâb (sebab-musabab)” dalam setiap penetapannya. Sehingga bisa dikatakan bahwa konsepsi maqasid syariah al-Dharûriyât, al-Hâjiyât dan al-Tahsiniyât yang matang pada periode al-Juwaini dan al-Ghazali, adalah tangan panjang dari konsepsi awal al-Dharûriyât, Maqasid al-Siyâsah dan al-Makramât dari Al-Syasyi.

Meskipun ditemukan beberapa pemikir Islam sebelum al-Juwaini yang mencoba mengutarakan terma maqasid, terlebih al-Tirmidzi al-Hakim yang secara jelas memberi judul bukunya dengan kata al-Maqâshid, namun, ada beberapa alasan—setidaknya menurut penulis—mengapa nama pencetus maqasid syariah lekat dengan nama al-Juwaini. Pertama, gagasan-gagasan awal maqasid syariah masih bersifat teosentris dan belum banyak menyentuh dimensi kemanusiaan. Kedua, jikalaupun masuk dalam dimensi kemanusiaan, maqasid syariah masih berfungsi sebagai hikmah, bukan tujuan. Ini berarti, sepenting apapun kebutuhan manusia, doktrin agama akan tetap statis tidak mengalami perubahan. Ketiga, posisinya yang berada pada susunan paling bawah dalam terma ushul fiqh, membuatnya sering kali terabaikan dan tidak dibahas secara serius.

Terma maqasid syariah kemudian dibahas mendalam mulai pada abad 5 H melalui tangan dingin Abu al-Ma’ali al-Juwaini (w.478 H/1085 M). Dalam al-Burhân fi Ushûl al-Fiqh-nya, al-Juwaini mengklasifikasi tingkatan maqasid menjadi lima dimensi, meliputi, al-Dharûriyât (keniscayaan-keniscayaan), al-Hâjah al-‘Ammah (kebutuhan-kebutuhan umum), al-Makramât (tindakan bermoral), al-Mandûbât (anjuran-anjuran) dan la maqshad muhaddad (tidak mempunyai tujuan tertentu). Pengembangan selanjutnya dilakukan oleh murid al-Juwaini, Al-Ghazali (w.505 H/1111 M). Dalam bukunya al-Mustashfa, beliau membagi apa yang disebut al-Juwaini dengan al-Dharûriyât menjadi lima dimensi: al-Dîn (agama), al-Nafs (jiwa), al-‘Aql (akal), al-Nasl (keturunan) dan al-Mâl (harta). Al-Ghazali kemudian mempopulerkan istilah al-Hifdzu (penjagaan/menjaga) pada kelima dimensi tersebut. 

Syihabuddin al-Qarafi (w.684 H/1285 M) juga turut andil dalam teoresasi maqasid syariah. Salah satu kontribusi penting al-Qarafi adalah pengklasifikasian perbuatan Nabi menurut kehendaknya. Pengklasifikasian yang meliputi tindakan Nabi sebagai utusan Tuhan, sebagai hakim dan sebagai pemimpin perang memberikan implikasi beragam. Perkataan dan perbuatan Nabi sebagai utusan Tuhan berdampak pada penetapan hukum agama yang bersifat doktrinal, sedangkan tindakan Nabi dalam penandatanganan perjanjian, pembagian harta rampasan perang atau sebagai hakim akan berimplikasi pada penetapan hukum dengan asas kemaslahatan. Selain itu, al-Qarafi juga memperkenalkan istilah fathu al-Dzarai’ (membuka sarana-sarana) untuk mencapai kemaslahatan.

Setelah al-Qarafi, nama Syamsuddin Ibn al-Qayyim (748 H/1347 M) disebut-sebut sebagai penerus dalam perkembangan maqasid syariah pada masa selanjutnya. Andil besar Ibn Al-Qayyim adalah kritikan tajam terhadap manipulasi hukum fiqh. Menurut beliau, penetapan hukum fiqh harus mempunyai hikmah dan sesuai dengan kemaslahatan manusia. Pada masa selanjutnya, al-Syatibi (790 H/1388 M) lewat al-Muwâfaqât-nya mencoba melakukan transformasi teori yang sebelumnya digagas oleh al-Juwaini dan al-Ghazali. Transformasi tersebut meliputi, pertama, dari al-Mashâlîh al-Mursalah (kemaslahatan-kemaslahatan lepas) ke ushûl al-Syarîah (asas-asas hukum), kedua, dari al-Hikmah min wara’i al-Ahkam (hikmah dibalik hukum) kepada qawâ’idu al-Ahkâm (dasar-dasar hukum) dan ketiga dari al-Dzanniyyah (praduga) menuju al-Qath’iyyah (kepastian).

Gagasan brilian al-Syatibi untuk memprioritaskan maqasid syariah dalam penetapan hukum ini mendapatkan apresiasi dari banyak pihak, walaupun beberapa kalangan menolak gagasan tersebut. Buktinya, tidak terlihat lagi pemikir Islam berorientasi maqasid syariah sampai abad 19 M. Pada masa ini, terma maqasid syariah mengalami perubahan ke bentuk yang lebih universal, dengan tidak hanya mengambil nilai-nilai yang ada pada literatur-literatur fiqh, tetapi juga mengambil nilai-nilai universal al-Quran dan Hadis. Selain itu, maqasid syariah juga memperluas medan cakupannya sampai pada dimensi masyarakat, bangsa bahkan umat manusia secara menyeluruh.

Untuk secara rincinya, penulis akan memulai dengan menyebut nama Ibnu Asyur (w.1325 H/1907 M) dengan beberapa teori maqasid syariah kontemporernya seperti, persetaraan gender, toleransi beragama dan kebebasan. Hal serupa juga dilakukan oleh Rasyid Ridha (w. 1354 H/ 1935 M). Dengan melakukan analisa mendalam terhadap ayat-ayat al-Quran, beliau kemudian memunculkan gagasan perbaikan sumber daya manusia, pembenahan ekonomi global sampai pada hubungan antar bangsa untuk menciptakan perdamaian dunia dalam maqasid syariah. Muhammad Al-Ghazali (w. 1416H/1996) ikut andil dalam perkembangan maqasid selanjutnya dengan gagasan keadilan sosial. Salah satu sumbangsih penting Muhammad Al-Ghazali dalam maqasid syariah adalah diferensiasi wasîlah dan ghâyah dalam memahami teks. Selain itu, beliau juga sering mengkritik para pakar fiqh yang terlalu menitikberatkan tekstualitas. Peran Yusuf al-Qardhawi (1345 H/1926 M) juga tidak bisa dianggap remeh dalam pengembangan maqasid syariah. Dengan gagasan menjaga etika dan moral manusia, dan ajakan untuk merangkul bangsa lain, beliau agaknya ingin membangun citra positif Islam yang akhir-akhir ini sering dikotori oleh tindak radikal atas nama agama. Untuk memahami maqasid syariah dalam al-Quran, al-Qardhawi menghimbau agar terlebih dahulu benar-benar paham terhadap kitab suci tersebut agar tidak masuk dalam jurang liberalisme atas nama maqasid syariah.

Related posts
Maqasid

Mengenal Maqasid al-Qur’an Badi’uzzaman Sa’id Nursi

4 Mins read
M. Nanda Fanindy al-Fateeh (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga; Redaktur maqasidcentre.id) Adalah sunah setiap peradaban memiliki masanya dan rentang waktunya. Jika kita…
Maqasid

Maqasid Ekonomi Syariah: Tujuan dan Aplikasi

7 Mins read
Judul               : Maqasid Ekonomi Syariah : Tujuan dan AplikasiPenulis             : Dr. Moh. Mufid, Lc., M.H.I,Penerbit           : Empatdua Media, MalangTebal               : 215 halamanTahun…
Maqasid

Wasathiyyah Sebagai Cita Rasa Maqasid Syariah

3 Mins read
Dr. Muhammad Solikhudin, M.H.I (Dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri) Metodologi Maqasid Syariah sejatinya bernuansa moderatisme. Hal ini sejalan dengan paham Islam Nusantara…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *