Portal Rujukan Studi Maqasid Syariah

 

Maqasid

Kontekstualisasi Maqasid Syariah

4 Mins read

M. Nanda Fanindy al-Fateeh (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Redaktur maqasidcentre.id)

Dalam menghadapi realitas manusia dan kondisinya, berbagai macam wacana keagamaan dan mekanismenya dilontarkan, baik dari kalangan ekstrem maupun moderat. Ada yang memandang fenomena tersebut sebagai ekspresi kultural dan ada yang bersandar pada prinsip-prinsip pemikiran yang sama, dan mengandalkan mekanisme yang sama (Nashr Hamid Abu Zayd, 2007: 7). Mekanisme tersebut─dalam tataran yang menyatukan kelompok moderat dan ekstrem─menurut Nashr Hamid Abu Zayd dapat dirangkum sebagai berikut:

Pertama, Menyatukan antara pemikiran dengan agama, dan meniadakan jarak antara subjek dan objek. Kedua, Menginterpretasi seluruh fenomena, apakah sosial atau fenomena alam, dengan cara mengembalikan seluruhnya pada prinsip atau sebab utama. Ketiga, mengandalkan otoritas salaf atau turâts (tradisi). Keempat, keyakinan mental dan kepastian intelektual yang final, serta menolak perbedaan pemikiran apa pun, kecuali perbedaan tersebut berkisar pada masalah cabang dan detailnya, bukan pada permasalahan dasar dan akarnya. Kelima, Membuang dan mengabaikan dimensi historis. Hal ini terlihat jelas pada romantisme masa lau yang gemilang. Dalam hal ini, masa Khulafâ’ ar-Rasyidîn dan masa kekhalifahan Turki Usmani diperlakukan sama. (Nashr Hamid Abu Zayd, 2007: 7)

Islam adalah ajaran yang bersumber dari Tuhan dan berorientasi pada manusia. Atas dasar inilah Islam tidak hanya menjadi agama yang membawa wahyu ketuhanan belaka, melainkan juga sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Di mana kemaslahatan primer menjadi acuan utama dalam implementasi syariat. Sebab kalau tidak, maka akan terjadi ketimpangan dan ketidakadilan yang mengakibatkan ambruknya tatanan sosial.

Kemaslahatan dalam tatarannya menjadi penyeimbang dan mediasi antara kecenderungan ukhrawi dan duniawi, titik temunya terletak pada upaya membumikan nilai-nilai yang diidealkan oleh Tuhan untuk kemanusiaan secara universal. Kemaslahatan Primer yang dimaksudkan adalah perlunya melindungi agama (hifzhu ad-dîn), jiwa (hifzhu an-nafs), akal (hifzhu al-aql), keturunan (hifzhu an-nasl), dan harta benda (hifzhu al-mâl).

Seperti pemaparan yang telah disinggung di atas, bahwa hifzhu ad-dîn dan hifzhu an-nafs yang merupakan bagian dari maqâsid syariah, tidaklah bertolak belakang dengan kondisi kemanusiaan kontemporer. Begitu juga dengan hifzhu al-aql, seperti yang digembor-gemborkan oleh Jaser Audah, dari hifzhu al-aql menuju pertumbuhan malakâh (bakat intelektual) akal dan pemikiran. Urgensi menjaga akal adalah─perintah Tuhan dalam─kewajiban mencari ilmu bagi setiap muslim lelaki dan muslim perempuan, secara kontinu mencari ilmu dimulai dari buaian Ibu hinga liang lahat.

Akal juga digunakan untuk merenung dan berpikir atas apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, ia juga merupakan manât at-taklîf (tempat bergantungnya suatu pembebanan). Oleh karena itu, Tuhan mengharamkan khamr/arak karena ia merusak akal, dan menetapkan batasan-batasan bagi yang melanggarnya (had al-khamr). Dengan akal, manusia memiliki kewajiban sekaligus menjadi hak untuk berpikir dan menyuarakan pendapatnya. (Jaser Audah, 2013: 28-29)

Tuhan menetapkan batasan-batasan (had) bagi orang yang berzina adalah agar manusia menjaga kehormatannya. Karena menjaga kehormatan dilakoni untuk mencegah munculnya kejahatan; menolak kerusakan; selain itu juga untuk melindungi hak-hak personal maupun kolektif. Hifzhu al-nasl pada tatarannya telah menaungi kemaslahatan umat di dalam menjaga generasi pemuda (penerus) suatu bangsa. Dari hifzhu al-nasl menuju mahligai rumah tangga yang harmonis (Jaser Audah, 2013: 28-29).

Selanjutnya Tuhan juga menetapkan batasan-batasan bagi seorang yang mencuri atau mengambil harta orang lain. Hal ini dilakukan sebagai tindakan preventif agar manusia tidak sembarangan mengambil harta maupun hak orang lain. Dalam pemaknaan yang lebih luas, hifzhu al-mâl telah merambah dalam kemakmuran ekonomi, dari hifzu al-mâl menuju pembangunan ekonomi. Bahkan akhir-akhir ini, di tengah-tengah kita telah muncul istilah ekonomi Islam maupun Bank Syariah Islamiyyah (Jaser Audah, 2013: 28-29). Karena bagaimanapun juga, ekonomi merupakan salah satu penyeimbang suatu negara (stabilitas ekonomi), dengan merealisasikan persamaan dan keadilan adalah salah satu syarat menuju kemakmuran ekonomi (Jaser Audah, 2013: 28-29).

Setiap manusia mesti menghargai keberagaman orang lain, menghormati jiwa, menghargai kebebasan berpikir dan berpendapat, menjaga keturunan (hak reproduksi), serta menghargai kepemilikan harta setiap orang. Kemaslahatan primer inilah yang merupakan inti ajaran agama, paradigma agama yang berbasis kemanusiaan. Karena tujuan pensyariatan hukum dalam Islam adalah membebaskan manusia dari kungkungan hawa nafsu. Sehingga muncul pengakuan secara suka rela sebagai hamba Allah Swt, sebagaimana ia tidak bisa melepaskan sandangan predikatnya sebagai seorang hamba. (Ahmad ar-Raisuni, 19)

Sebuah prinsip yang bermetamorfosa menjadi identitas adalah hak setiap orang untuk beragama dan memilih agama sesuai dengan keyakinan dan konteks di mana ia hidup. Kepemelukan kepada sebuah agama menjadi sebuah keniscayaan yang mesti dilalui setiap insan, walaupun ekspresi dan ritualitasnya berbeda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, perbedaan memang menjadi hal yang lumrah dan biasa, lantaran manusia diciptakan berbeda, berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, agar mereka saling mengenal. Karena manusia berasal dari satu Bapak (Adam) dan satu Ibu (Hawa). (Ali Abdul Wahid Wafi, 2008: 7)

Senada dengan firman Allah Swt dalam QS. al-Hujurat ayat 13. Dari keberagaman manusia yang luar biasa tersebut, perlu kiranya untuk mengajak dan mengilhami masyarakat untuk bersikap terbuka, rendah hati, tenggang rasa, serta toleransi. Terhimpun banyak dalam ayat suci al-Qur’an, ajakan kepada kaum Muslimin untuk memiliki sikap toleransi antar sesama. Seorang Muslim tidak dilarang untuk berbuat baik kepada non-Muslim, selama dalam koridor yang wajar dan hubungan yang baik. (Ahmad Muhammad hufi, 1997: 52)

Dari keaadan tersebut─kembali pada fenomena fundamentalisme─jika dipandang secara sepintas memang merupakan keberislaman yang total, tidak mencla-mencle, sesuai dengan ideologi mereka yang bersifat totalitarian-sentralistik, mereka juga termasuk golongan yang sangat mencintai Islam. Namun, pemahaman mereka yang kurang mendapatkan sentuhan yang dalam.

Selanjutnya, untuk memutus mata rantai penyebaran paham dan ideologi garis keras dapat melalui pendidikan (dalam artian seluas-luasnya) yang mencerahkan, untuk menjadi pribadi yang santun dan menjadi jiwa-jiwa yang tenang. Di samping membumikan nilai-nilai maqâsid syariah yang bersifat humanis di dalam kehidupan yang beragam.

Manusia adalah satu-satunya ciptaan Tuhan yang paling sempurna, karena ia dianugrahi oleh Tuhan berupa akal dan hati nurani. Namun orang yang berakal bukanlah mereka yang dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, kemudian memilih yang baik. Tetapi mereka yang mampu membedakan antara yang paling baik di antara yang baik, dan yang paling mudarat di antara yang mudarat (Ahmad ar-Raisuni, 75). Maka tak heran jika sepanjang nusantara dan penjuru dunia, terbentang rupa manusia dan berbagai cara mereka berdialektika dengan realitas.

Ladang maqâsid dalam literatur ilmu-ilmu Islam dapat kita kembangkan bersama, sebagai spesifikasi kajian Islam kontemporer, juga sebagai bentuk kontribusi atas proyek reformasi pemikiran Islam (kebangkitan). Di samping berfungsi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan keagamaaan, seperti fenomena ekstremisme yang saat ini sedang merebak luas. Maka penting untuk mencoba mendialektikakan teori maqâsid syariah dengan isu-isu atau problematika kontemporer, untuk menciptakan keharmonisan yang sinergis antara maqâsid dan realitas sosial yang belakangan senjang. Agar syariat yang kita pegang tidak berwajah statis, eksklusif dan diskriminatif, namun syariat yang dinamis, inklusif, dan egalitarianistik. Akhirnya, dengan segala keterbatasan penulis, tulisan ini dihadirkan sebagai tanggungjawab intelektual, kurang dan lebihnya sudah menjadi suatu pemakluman

Related posts
Maqasid

Mengenal Maqasid al-Qur’an Badi’uzzaman Sa’id Nursi

4 Mins read
M. Nanda Fanindy al-Fateeh (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga; Redaktur maqasidcentre.id) Adalah sunah setiap peradaban memiliki masanya dan rentang waktunya. Jika kita…
Maqasid

Maqasid Ekonomi Syariah: Tujuan dan Aplikasi

7 Mins read
Judul               : Maqasid Ekonomi Syariah : Tujuan dan AplikasiPenulis             : Dr. Moh. Mufid, Lc., M.H.I,Penerbit           : Empatdua Media, MalangTebal               : 215 halamanTahun…
Maqasid

Wasathiyyah Sebagai Cita Rasa Maqasid Syariah

3 Mins read
Dr. Muhammad Solikhudin, M.H.I (Dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri) Metodologi Maqasid Syariah sejatinya bernuansa moderatisme. Hal ini sejalan dengan paham Islam Nusantara…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *