Portal Rujukan Studi Maqasid Syariah

 

Fikih - Usul Fikih

Melahirkan Agen Maqasid Melalui Fikih Sosial

3 Mins read

Rifqi Nurdiansyah M.H (Mengajar di Fakultas Syari’ah IAIN Kerinci, Jambi)

Maqasid Syariah telah menjelma sebagai konsep yang ideal bagi praktisi hukum Islam dalam menerapkan syariat agama Islam. Lima polanya sangat membumi dan dapat dengan mudah berinteraksi dalam ruang lingkup sosial dan budaya. Sehingga hukum Islam dapat selalu hidup di berbagai waktu dan tempat. Di setiap periode, para ulama mengedepankan asas-asas berupa ‘Adamu al-Kharaj (tidak memeprsulit), Taqlilu al-Taklif (memperingan beban), dan al-Tadrij (berangsur-angsur).

Asas-Asas tersebut dipraktikkan pada hukum-hukum yang dapat diubah (Fiqh) sedangkan hukum yang tidak dapat diubah akan tetap dan kekal yang disebut Syariat. Fiqh atau dalam KBBI Kemendikbud disebut Fikih merupakan ilmu tentang hukum Islam yang pada hal ini dapat dipengaruhi oleh asas-asas tersebut. Syariat sendiri menyangkut hal-hal baku di dalam ajaran Islam seperti rukun Islam dan rukun iman. Sehingga, keberadaan syariat tidak dapat diganggu gugat.

Maqasid Syariah (tujuan syariat) bermisikan mewujudkan agama Islam yang rahmatal lil ‘alamin (rahmat untuk alam semesta). Atau dapat dibahasakan sebagai kemaslahatan umum. Hujjatul Islam Imam Ghozali menyatakan sasaran dari kemaslahatan umum dituangkan dalam “al-Dloruriyat al-Khamsah” meliputi menjaga agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan (Hasan, 2005: 27-28). Hal tersebut senada dengan konsep Mashlalah di dalam Usul Fikih.

Lahirnya istilah yang berpadanan dengan Fikih sebagai sebuah frasa, menunjukan Fikih adalah sisi elastis dalam hukum Islam. Bahkan, penggunaan istilah fikih sering langsung disematkan pada kata Islam atau Tauhid. Menunjukan bahwa Islam itu dinamis. Sebagai contoh, Islam Nusantara, Islam Berkemajuan, Tauhid Sosial, Pribumisasi Islam, Islam Transformatif, Islam Aktual, Tasawuf Sosial hingga yang akan disinggung dalam artikel ini Fikih Sosial.

Di Indonesia, gaung fikih sosial dipopulerkan oleh dua ulama besar yakni KH. Ali Yakfie dan KH. MA. Sahal Mahfudh. Fikih Sosial atau al-fiqh al-ijtima’i adalah perpaduan fikih (hukum Islam) yang peka terhadap kehidupan sosial. Menurut Jamal Ma’mur Asmani hadirnya Fikih Sosial guna mengeluarkan fikih dari kurungan tekstualitas, formalitas, dan simbolitas. Sekaligus, menjadi pembimbing bagi kehidupan keagamaan masyarakat yang penuh dengan sekuleritas, hedonitas dan imoralitas (Asmani, 2015: vii).

Di sisi lain, Fikih Sosial adalah bentuk peran fikih dalam menjawab dan memecahkan problematika sosial masyarakat. Fikih Sosial menjadi ilmu yang mampu menyokong dan meningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakat. Keberadaan fikih sosial memadukan dua hal tugas manusia yakni Ibadah kepada Allah (‘Ibaddatullah) dan sebagai perwujudan manusia sebagai pemimpin di dunia (‘imoratul al-ardh). Dua hal ini akan membentuk manusia menjadi insansaleh-akram demi mencapai saa’datu al-darain (bahagia dunia akhirat) (Asmani, 2012: 12).

Dalam Fikih Sosial KH. MA. Sahal Mahfudh terdapat lima dasar yang perlu dikuasai oleh praktisi hukum Islam. Lima pokok fikih sosial adalah cara mengoperasionalkan Maqasid Syariah. Sekaligus menyiapkan agen di lapangan untuk mewujudkan kemaslahatan. Bisa pula, konsep ini digunakan untuk mengkader para agen Maqasid. Lima Pokok Fikih Sosial (Baroroh, 2014:8) diantaranya:

Pertama, Interpretasi Fikih secara kontekstual. Pada level awal ini, agen Maqasid harus menguasai dasar-dasar ilmu agama Islam. Ilmu Bahasa Arab dan segala yang berkaitan wajib dikuasai. Dalam memahamai fikih secara tekstual sangat penting menguasai ilmu alat di dalam bahsa Arab. Tidak mungkin seseorang bisa mengkontekstualkan fikih sedangkan ia tidak menguasai fikih secara tekstual.

Kedua, perubahan pola bermazhab dari qauly ke manhajy. Level kedua ini menuntut penguasaan keilmuan yang sangat mumpuni. Untuk menuju mazhab manhajy harus menguasi turats qadim (kitab-kitab keagamaan Islam klasik) hingga turats kontemporer. Terlebih dahulu, agen menguasai banyak pendapat terhadap satu perkara (fihi aqwal) sebelum melakukan penyelesaian terhadap persoalan suatu hukum. Mazhab manhajy berarti melakukan metode yang dilakukan oleh para imam madzhab.

Ketiga, membedakan mana ajaran yang pokok (ushul) dan mana ajaran yang bukan pokok (furu‘). Pada level ketiga ini, agen mampu mengidentifikasi permasalahan hukum. Tidak menjadikan yang furu‘ menjadi ushul dan yang ushul menjadi furu‘. Tahap ketiga adalah ilmu klasifikasi permaslahan yang memudahkan tugas-tugas ‘imoratul al-ardh dalam memecahakan problem-problem sosial.

Keempat, Fikih sebagai etika sosial bukan hukum positif negara. Fikih termasuk upaya rechtsvinding yakni metode penemuan hukum atau penggalian hukum terhadap teks-teks keagamaan. Sedangkan dasar dari hukum positif negara adalah rechtsvorming yakni metode pembentukan hukum. Menjadikan fikih sebagai hukum positif akan menuai banyak perbedaan pendapat dengan segala tafsirnya yang berbeda-beda.

Dalam misi fikih sosial keempat ini, agen mampu menjadi fikih sebagai etika. Ketika fikih sudah menjadi nilai etis di dalam kehidupan masyarakat, maka akan melahirkan budaya fikih yang hidup dan menjadi pedoman atas nilai dan norma yang ada di masyarakat.

Kelima, menguasi metodologi pemikiran filosofis. Jelas, KH. MA. Sahal Mahfudh telah membuktikan hasil dari penguasan metodologi filosofis dengan tridaya pemberdayaan. Meliputi pemberdayaan ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Tahap kelima ini agen mampu menguasai metode filosofis yang terstruktur dan sistematis. Sehingga keberadaan Fikih Sosial sebagai elaborasi dari Maqasid Syariah berdampak besar di dalam sosial dan budaya.

Referensi:

Asmani, Jamal Ma’mur dKK, Mempersiapkan Insan Sholih Akrom, Pati: Perguruan Islam Matholi’ul Falah, 2012.
Asmani, Jamal Ma’mur, Mengembangkan Fiqih Sosial KH. MA. Sahal Mahfudh: Elaborasi Lima Ciri Utama, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2015.
Baroroh, Umdatul dKK, Epistemologi Fiqih Sosial, Pati: Fiqih Sosial Institut, Kampus STAI Mathali’ul Falah, 2014.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *