Portal Rujukan Studi Maqasid Syariah

 

Maqasid

Wasathiyyah Sebagai Cita Rasa Maqasid Syariah

3 Mins read

Dr. Muhammad Solikhudin, M.H.I (Dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri)

Metodologi Maqasid Syariah sejatinya bernuansa moderatisme. Hal ini sejalan dengan paham Islam Nusantara yang berkembang di Indonesia. Cara kerja yang berimbang ini menarik dicermati oleh pemerhati hukum Islam dan masyarakat pada umumnya. Jasser Audah mengistilahkan Metodologi Maqasid Syariah dengan Manhaj al-Tafkir al-Maqasidy. Metodologi ini bermakna sebagai cara kerja yang muncul dari akal manusia muslim dengan metode berpikir yang berawal dari parsial ke menyeluruh/holistik. Metodologi ini bermuara dari nalar tradisional/klasik ke cara berpikir yang luhur dan bertujuan untuk pengembangan, inovasi, dan novelty (Jasser Audah: 2001, 33-34).

Metodologi Maqasid Syariah juga diistilahkan dengan Manhaj Wasathy yang berusaha lepas dari dua Metodologi yang saling menegasikan, yaitu Manhaj Ḥarfi Zahiry yang tidak menerima semua hal baru. Sedangkan Manhaj Tafkiki Tarikhy yang meleburkan sejarah Islam dengan melahirkan hal baru yang paradoks dengan Islam dan orang-orang Islam (Jasser Audah: 2012, 61-62). Abd al-Aziz al-Baṭiwy mengatakan, bahwa sebenarnya al-Manhajiyah al-Maqāṣidiyah berkelindan dengan dua struktur (system) dasar, yakni struktur tashri’iyah (penyusunan hukum) dan struktur ma’āny (makna-makna yang terkandung dalam teks) (Abd al-Azīz al-Baṭīwy: 2013, 4).

Terminologi yang dijelaskan di atas menunjukkan, bahwa Maqasid Syariah merupakan disiplin ilmu yang lahir dari “rahim” Islam. Maka kerja-kerja intelektual dengan basis Maqasid Syariah selalu menarik untuk dilakukan, karena tidak keluar dari jalur kaidah-kaidah agama Islam. Karakter Maqasid yang moderat memiliki beberapa bentangan makna yang dijelaskan sebagai berikut:

Maqasid Syariah Berdiri Tegak di antara Aspek Ketuhanan dan Kemanusiaan

Kita semua meyakini, bahwa Allah merupakan Sang Pencipta jagad raya ini. Maka setinggi apa pun status sosial dan keilmuan manusia, ia tidak berhak atas pensyariatan hukum. Apa yang dilakukan mujathid merupakan kesungguhan mereka dalam penggalian hukum-hukum Allah yang perlu dijelaskan lebih lanjut, sehingga menjadi ketetapan yang siap untuk dinikmati masyarakat. Maqasid selalu sejalan dengan ketentuan ketuhanaan dan berguna bagi kebaikan umat manusia agar terwujud kesejahteraan lahir batin.

Maqasid Syariah Berdiri Tegak di antara Idealisme dan Realitas

Maqasid Syariah merupakan disiplin ilmu yang selalu menarik dikaji dan selalu digelorakan untuk diterapkan. Dimensi idealisme ini tidak serta merta menutup kenyataan yang ada di dunia empiris. Maka Maqasid Syariah tidak lahir dari ruang hampa, karena kelahirannya bermula dari buah zaman yang dilewati oleh peradaban umat manusia.

Pada tatanan praktis, terdapat kenyataan yang harus dipadukan dengan idealisme yang bermuatan cita-cita kehidupan yang sempurna. Untuk menyeimbangkan antara manusia dan kehidupan. Idealisme itu harus diturunkan sehingga menjelma sebagai kebijaksaan. Contoh riilnya adalah perilaku korup pejabat publik. Seharusnya, jika mengikuti nalar idealisme, pejabat publik harus baik dan sempurna dalam segala aspek. Realitas menghendaki lain, ia harus melihat hal ini sebagai problem yang harus dicarikan solusi dengan jalur hukuman yang menjerahkan sesuai dengan prinsip Maqasid Syariah.

Maqasid Syariah Berdiri Tegak di antara Teks dan Maksud Teks

Harmoni antara teks dan tujuan teks menjadikannya selalu sejalan dengan ruang dan waktu. Hal ini dilakukan untuk menghidari nalar yang terlalu liar dan menjauh dari teks dan juga untuk menafikan nalar konservatisme yang berlebihan dalam membaca teks, sehingga abai dengan konteks saat ini.

Sesuai dengan metodologi Maqasid Syariah di atas, maka teks tetap dipakai dengan melihat konteks. Tujuan dijadikan analisis untuk melihat realitas. Seperti hukuman potong tangan bagi pelaku pencurian, kita sudah tahu teks jelas mengatakan ini, namun juga harus melihat konteks Indonesia yang majemuk, sehingga alasan hukum dari hukuman ini adalah untuk menjerahkan pelaku.

Maka di Indonesia diterapkan hukuman penjara dengan harapan pelaku tidak melakukan perbuatan tercelanya lagi. Contoh lain adalah dibangunnya sistem muamalah antar manusia yang manusiawi. Hal ini dilakukan agar harta terpelihara dengan baik. Seperti diketahui, manusia yang memiliki kecenderungan menjaga hartanya, maka pemeliharaan terhadap keturunan, akal, jiwa dan agama akan terpenuhi. Inilah yang dinamakan dengan nalar hierarki maqasidy.

Dengan demikian dapat dipahami, Maqasid Syariah yang posisinya di tengah-tengah ini dapat dijadikan sebagai petimbangan hukum untuk memecahkan problem-problem kontemporer yang secara nas tidak dijelaskan secara detail. Hal ini menyebabkan hukum Islam semakin dinamis, implikasinya lahir aksioma-aksioma sekunder, baik itu qiyas, istihsan, istishlah dan ‘urf. Bahkan Maqasid Syariah tidak hanya dipertimbangkan dalam berijtihad, namun ia juga bisa menjadi dalil itu sendiri, karena wataknya yang selalu berkelindan dengan zaman dan tempat. Teks yang sesuai dengan tujuan merupakan kebaikan yang mu’tabarah. Teks tidak menjelaskan secara detail, tetapi ada tujuan yang dapat diterima oleh nalar sehat, maka hal ini dinamakan dengan kebaikan yang terlepas (mursalah). Dua Maqasid Syariah inilah yang dapat dijadikan sebagai landasan hukum, dalam konteks ini hukum selalu hidup dan mengayomi kebutuhan umat manusia.

Related posts
Maqasid

Mengenal Maqasid al-Qur’an Badi’uzzaman Sa’id Nursi

4 Mins read
M. Nanda Fanindy al-Fateeh (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga; Redaktur maqasidcentre.id) Adalah sunah setiap peradaban memiliki masanya dan rentang waktunya. Jika kita…
Maqasid

Maqasid Ekonomi Syariah: Tujuan dan Aplikasi

7 Mins read
Judul               : Maqasid Ekonomi Syariah : Tujuan dan AplikasiPenulis             : Dr. Moh. Mufid, Lc., M.H.I,Penerbit           : Empatdua Media, MalangTebal               : 215 halamanTahun…
Maqasid

Islam Wasathiyyah dalam Bingkai NKRI Perspektif Maqasid al-Syari’ah

3 Mins read
Dr. Muhammad Solikhudin, M. H.I. (Dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri, Jawa Timur) Gagasan Islam wasathiyyah merupakan ikhtiyar dalam pembangunan kepribadian dan karakter…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *