Portal Rujukan Studi Maqasid Syariah

 

Maqasid

Islam Wasathiyyah dalam Bingkai NKRI Perspektif Maqasid al-Syari’ah

3 Mins read

Dr. Muhammad Solikhudin, M. H.I. (Dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri, Jawa Timur)

Gagasan Islam wasathiyyah merupakan ikhtiyar dalam pembangunan kepribadian dan karakter manusia, baik individual ataupun kolektif. Gagasan ini berkelindan dengan formulasi ummatan wasathan yang tertuang dalam Kitab Suci. Wasathiyyah berakar dari kata ‘wasath’ bermakna, penengah, perantara, yang berada di posisi tengah, pusat, jantung, mengambil jalan tengah atau cara yang bijak atau utama, indah dan terbaik, bersifat ‘tengah’ dalam pandangan, berbuat adil (Penerbit Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban: 2018, 10).

Azra menyatakan, bahwa Islam wasathiyyah adalah Islam jalan tengah yang moderat, inklusif dan toleran (Azyumardi Azra: 2020, x). Menurut kajian Islam akademik internasional, Islam wasathiyyah disebut juga dengan ‘justly-balanced Islam’. Sejatinya Islam wasathiyyah merupakan istilah Qur’ani. Hal ini berdasarkan pada ungkapan ummatan wasathan QS, (2): 143 yaitu umat yang berada di tengah, yang tidak ekstrem ke kiri dan ke kanan atau ke atas dan ke bawah. Menurut Hadis nabi Muhammad Saw posisi wasathiyyah merupakan posisi terbaik (khayr umur awsathuha).

Bangsa Indonesia bersyukur, karena sejak masa Islamisasi menemukan momentum di wilayah ini pada pertengahan abad ke-13, Islam yang berkembang adalah Islam wasathiyyah. Islam dengan corak seperti ini yang dapat dilihat aktualisasinya di Indonesia memiliki langgam tawasuth (tengah), tawazun (seimbang), i’tidal (adil), tasamuh (toleran), islah (reformis),  ta’awun (tolong menolong/gotong royong), syura/musyawarah (konsultasi), muwathanah (cinta tanah air), musawa (setara) dan qudwah (teladan) (Azyumardi Azra: 2020, x).

Aktualisasi Islam wasathiyyah di Indonesia bukan hanya pada tingkat doktrin, namun juga pada realitas empiris, historis, sosiologis dan kultural. Hal ini dapat dijelaskan dalam eksistensi ormas-ormas Islam yang ada di seluruh penjuru dan pelosok Nusantara, sejak dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, al-Washaliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Mathla’ul Anwar, Persatuan Islam, Persatuan Ummat Islam, Jamiatul Khair, al-Irsyad, Nahdlatul Wathan, Alkhairat, Yayasan Pendidikan Islam dan banyak lagi ormas-ormas yang menjadi arus utama Islam Indonesia dan sekaligus merupakan bastion Islam wasathiyyah di kawasan ini (Azyumardi Azra: 2020, x).

Islam wasathiyyah yang bermuatan kerahmatan bagi semesta alam sejalan dengan metodologi maqasid al-syari’ah, seperti dijelaskan dalam tulisan penulis sebelumnya dengan judul Wasathiyyah sebagai cita rasa Maqasid al-Syari’ah di Maqasid Centre. Cara kerja Maqasid al-Syari’ah bercita rasakan moderat yang berbanding lurus dengan nalar Islam wasathiyyah. Jasser Auda mengistilahkan cara kerja Maqasid al-Syari’ah dengan Manhaj al-Tafkir al-Maqasidi. Metodologi ini bermakna sebagai cara kerja yang muncul dari akal manusia muslim dengan metode berpikir dari parsial ke holistik. Metodologi ini bermuara dari nalar tradisional ke cara berpikir yang luhur yang bertujuan untuk pengembangan, inovasi, dan novelty (Jasser Auda: 2001, 33-34).

Nalar holistik dan nalar berpikir luhur ini menjadi spirit utama dalam merealisasikan kemaslahatan, menjauhkan umat Islam dari hal-hal yang tercela yang tidak bermanfaat sehingga umat Islam memiliki nalar utuh tentang hakikat keagamaan dan keberagaman. Agama merupakan basis kehidupan dan keberagaman adalah keniscayaan. Oleh karena itu, konsepsi rahmatan lil ‘alamin harus terus diriilkan dalam pergumulan keumatan agar terejawantah Islam wasathiyyah yang diharapkan.

Cara kerja Maqasid al-Syari’ah memiliki nomeklatur lain, yakni Manhaj Wasathi yang berusaha keluar dari dua Metodologi yang saling berlawanan, yaitu Manhaj arfi Zhahiri yang tidak menerima semua hal baru. Sedangkan Manhaj Tafkiki Tarikhi yang meleburkan sejarah Islam dengan melahirkan hal baru yang paradoks dengan Islam dan orang-orang Islam (Jasser Auda: 2012, 61-62). Abd al-Aziz al-Baṭiwi menyatakan, bahwa sebenarnya al-Manhajiyah al-Maqāṣidiyah berkelindan dengan dua struktur (system) dasar, yakni struktur tashri’iyah (penyusunan hukum) dan struktur ma’āni (makna-makna yang terkandung dalam teks) (Abd al-Azīz al-Baṭīwi: 2013, 4).

Cara kerja tidak menerima semua hal baru melahirkan konservarisme yang akut bahkan mengarah pada ekstremisme kanan yang bersumber dari kesalahpahaman menafsirikan teks agama, kebencian kepada sesama manusia dan keeklusifan/kepongahan yang menyebabkan kerusakan, kebrutalan dan hal-hal destruktif yang lain. Sebaliknya, cara kerja meleburkan sejarah Islam dengan memunculkan hal baru yang bertentangan dengan Islam dan orang-orang Islam juga akan melahirkan kebebasan tanpa kontrol yang menghilangkan batas-batas agama sebagaimana dituangkan dalam cita rasa maqasid al-syari’ah, yakni maqasid berdiri tegak di antara aspek ketuhanan dan kemanusiaan, idealisme dan realitas dan teks dan maksud teks. “Murungnya” saat ini, Islam wasathiyyah di Indonesia mendapatkan tantangan dari Islam transnasional yang mengusung paham dan kegiatan hidup keagamaan yang kaku, literal, bahkan anarkis. Paham seperti ini berupaya mereka tancapkan dengan berbagai cara ke dalam berbagai lembaga Islam wasathiyyah di Indonesia. Oleh karena itu, agar “wajah Islam wasathiyyah” yang bermuatan kedamaian, cinta kasih, keselamatan dan kerahmatan ini tetap “tersenyum bahagia” butuh usaha penguatan secara kontinuitas dengan cara kembali menancapkan vitalisasi dan aktualisasi Islam wasathiyyah. Apabila hal ini dapat direalisasikan dengan baik dan benar, niscaya Islam wasathiyyah akan selalu hadir untuk mencerahkan kehidupan umat manusia.

Related posts
Maqasid

Wasathiyyah Sebagai Cita Rasa Maqasid Syariah

3 Mins read
Dr. Muhammad Solikhudin, M.H.I (Dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri) Metodologi Maqasid Syariah sejatinya bernuansa moderatisme. Hal ini sejalan dengan paham Islam Nusantara…
Maqasid

Maqasid Syariah sebagai Metodologi Pembaruan dalam Diskursus Islam

3 Mins read
M. Nanda Fanindy al-Fateeh (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Redaktur maqasidcentre.id) Maqasid syariah merupakan salah satu metodologi penting untuk melakukan pembaruan…
Maqasid

Maqasid Syariah dan Hukum Keluarga Islam

3 Mins read
Mohammad Ikhwanuddin (Redaktur Maqasid Centre dan Dosen UM Sidoarjo) Tulisan ini bukan hendak dimaksudkan untuk mendiskusikan historisitas maqasid dan infiltrasinya dalam kajian…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *