Portal Rujukan Studi Maqasid Syariah

 

Maqasid

Dialektika Mua’malah dan Maqasid al-Syari’ah

4 Mins read

Dr. Muhammad Solikhudin, S. Sy., M. H.I (Dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri, Jawa Timur)

Mua’malah secara bahasa bermakna saling berbuat. Kata ini mendeskripsikan kegiatan yang dijalankan oleh seseorang dengan seseorang atau beberapa orang untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing. Sedangkan fikih mua’malah merupakan ilmu tentang hukum-hukum yang berhubungan dengan perilaku mukallaf dalam problem-problem kebutuhan di dunia, misal dalam hal jual beli, utang-piutang, kerjasama dagang, kerjasama dalam penggarapan tanah dan sewa-menyewa.

Sebagai muslim yang taat, maka mua’malah yang dilakukan oleh manusia tidak boleh keluar dari ajaran agama atau dapat disebut nilai-nilai ketuhanan. Pengabdian manusia kepada Allah harus diwujudkan dalam praktik mua’malah agar tercipta kemaslahatan sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam atau maqasid al-syari’ah. Hal ini sebagaimana tertuang dalam surat az-Zariyat (51): 56 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku…”

Al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan sumber primer hukum Islam yang mengandung beragam aspek seperti ajaran akidah, akhlak, ibadah dan mua’malah. Ajaran akidah berhubungan dengan keimanan dan keyakinan manusia terhadap keberadaan Allah, para Malaikat, Rasul, Kitab Suci dan lain-lain. Ajaran akhlak berkaitan dengan budi pekerti dan etika moral yang harus dipertanggungjawabkan manusia di hadapan Allah.

Ajaran ibadah berkaitan dengan praktik-praktik peribadatan seperti salat, puasa, haji dan lain-lain. Sedangkan ajaran mua’malah berkaitan dengan hubungan antar manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup yang harus diselaraskan dengan sumber hukum Islam, oleh karena itu mua’malah tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai ketuhanan.

Semua aspek ajaran di atas memiliki muatan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia. Perlu diketahui untuk ajaran akidah, akhlak dan ibadah manusia tidak boleh melakukan kreasi sama sekali, karena Allah lebih mengetahui aspek kemaslahatan yang terkandung dalam tiga hal ini. Sedangkan dalam ajaran mua’malah, syariat memberikan konfirmasi terhadap beragam kreasi yang dilakukan manusia, karena ketika Islam datang, sudah banyak ditemui jenis-jenis mua’malah. Maka Islam melakukan konfirmasi dan kajian aktual dengan cara merubah atau membatalkan agar tidak keluar dari koridor agama.

Syariat Islam mempunyai prinsip dan kriteria dasar yang harus dipenuhi oleh setiap jenis mua’malah. Hal ini meliputi memiliki muatan maslahah, sejalan dengan prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, saling tolong-menolong, tidak menyulitkan dan ridho dengan ridho. Dengan mengacu beberapa kriteria ini, maka sejatinya semua jenis mua’malah adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya. Inilah aspek maqasid al-shariah yang terkandung dalam mua’malah yang berguna bagi kebaikan dan kebahagiaan umat manusia.

Sejalan dengan jenis mua’malah ini terdapat beberapa kaidah umum yang harus dipedomani oleh manusia dalam kegiatan ini. Beberapa hal ini meliputi, Pertama, tindakan mua’malah tidak boleh keluar dari nilai-nilai ketuhanan. Kegiatan mua’malah manusia harus sesuai dengan ajaran Islam sebagai wujud pengabdian manusia kepada Allah dan manusia memiliki prinsip serta keyakinan, bahwa kegiatan yang dilakukan selalu diawasi oleh Allah. Hal ini bertujuan untuk menyeimbangkan sisi duniawi dan ukhrawi sebagaimana tertuang dalam maqasid al-syari’ah. Kedua, tindakan mua’malah sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mengutamakan akhlak mulia.

Ketiga, melakukan pertimbangan atas kemaslahatan pribadi dan masyarakat. Apabila untuk memenuhi kemaslahatan bersama harus mengorbankan kemaslahatan pribadi, maka hal ini boleh dilakukan. Keempat, menjunjung tinggi prinsip-prinsip kesamaan hak dan kewajiban di antara sesama manusia. Kelima, semua perbuatan kotor berhukum haram, baik perbuatan, perkataan, contoh penipuan, manipulasi, eksploitasi manusia atas manusia, penimbunan barang oleh pedagang (ihtikar) dan kecurangan-kecurangan. Begitu juga dalam hal materinya seperti minuman keras, babi dan jenis-jenis yang lain. Keenam, semua yang baik dihalalkan. Seperti dijelaskan dalam surat al-Maidah (5): 5.

Berpedoman pada prinsip-prinsip mua’malah di atas maka ulama fikih membagi jenis mua’amalah pada dua hal secara global: Pertama, jenis mua’malah yang hukumnya sudah dijelaskan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Hal ini karena Allah mengetahui, bahwa manusia akan kesulitan menemukan kebaikan dan kebenaran hakiki dalam persoalan-persoalan ini. Contohnya adalah persoalan warisan, bilangan talak, ‘iddah, khulu’, rujuk, keharaman khamar, keharaman babi, keharaman riba dan lain-lain.

Hukum-hukum jenis mua’malah pertama ini bersifat permanen dan mengandung kemaslahatan bagi umat manusia, seperti dijelaskan Abu Ishaq al-Shatibi, penentuan yang dilakukan oleh Allah memiliki muatan maslahah bagi manusia, baik di dunia dan di akhirat. Selain jenis mua’malah pertama, ada juga jenis mua’malah kedua yang tidak dijelaskan langsung oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, namun diserahkan secara penuh kepada para mujtahid yang diselaraskan dengan zaman dan tempat.

Terkait jenis mua’malah kedua ini, Islam menjelaskan kaidah-kaidah dasar dan prinsip-prinsip umum yang sejalan dengan shara’. Mua’malah jenis ini merupakan rahmat Allah yang berguna bagi kebaikan manusia. Contohnya adalah bay’ al-mu’athalah (jual beli dengan saling menyerahkan uang dan mengambil barang tanpa disertau ijab qabul), seperti yang terjadi pada zaman sekarang di pasar-pasar maupun di swalayan. Maka unsur utama yang dipedomani dalam hal ini adalah kerelaan kedua belah pihak yang melalukan kegiatan jual beli, seperti dijelaskan dalam firman Allah surat an-Nisa’ (4): 29 dan surat al-Hajj (22): 78.

Dialektika Perubahan Sosial, Mua’malah dan Maqasid al-Syari’ah

Mua’malah selalu berkaitan dengan perubahan sosial. Pergeseran zaman dan tempat dapat mempengaruhi perubahan konsep mua’malah yang hal ini masih sesuai dengan prinsip maqasid al-syari’ah agar tercipta maslahah dan terhindar dari bahaya. Peran nalar dalam menjawab tantangan zaman yang terus berkembang menjadi niscaya, selama diimbangi dengan dimensi universal, tidak bertentangan dengan sumber primer hukum Islam dan sesuai dengan logika berpikir mayoritas masyarakat sehingga tercipta keadilan dan kemaslahatan.

Unsur kemaslahatan adalah kunci merealisasikan mua’malah. Contohnya pada abad V H di Bukhara dan Balkh (Asia Tengah), ulama Hanafi membuat mua’malah dengan nama bay’ al-wafa’, yakni jual beli bersyarat dengan tenggang waktu, sehingga jika masa tenggang yang ditentukan telah habis, pihak pembeli wajib menjual barang yang dibelinya itu kepada pihak penjual sesuai dengan harga ketika berlangsungnya akad.

Praktiknya adalah Budiharto (nama orang) membutuhkan uang dan dia memiliki kebun. Sementara ada orang kaya (Sugiharto) tidak mau meminjamkan uangnya. Maka Budiharto menjual kebunya kepada Sugiharto selama dua tahun dengan harga 100 juta dan setelah dua tahun Budiharto boleh membeli kebunya dengan harga yang sama saat dia menjualnya. Sedangkan pada masa dua tahun itu, pihak pembeli bebas mengolah dan mengeksploitasi lahan yang dia beli untuk kepentingannya.

Jual beli model ini memiliki tiga bentuk transaksi, pertama, ketika di awal merupakan akad jual beli. Kedua, terjadi akad sewa-menyewa, karena ketika masanya habis barang kembali ke penjual. Ketiga, ketika di akhir terjadi akad al-rahn (gadai), karena ketika sudah jatuh tempo yang disepakati, penjual harus mengembalikan uang dan pembeli harus mengembalikan barang secara utuh. Jual beli ini diciptakan masyarakat dan disetujui mazhab Hanafi dengan harapan agar tidak mewabah riba dank arena orang karya tidak mau meminjamkan uangnya dengan sukarela (al-qardh al-hasan). Contoh lain yang dapat disampaikan adalah wakaf uang ASN di lingkungan Kementerian Agama yang digali dari gaji para ASN secara sukarela untuk kesejahteraan umat. Hal ini merupakan masalah mua’malah baru yang berdialektika dengan perubahan sosial dan sejalan dengan prinsip maqasid al-syari’ah untuk merealisasikan maslahah dan menghindari bahaya sehingga terwujud kesejahteraan, kebaikan dan kebahagiaan bagi kehidupan umat manusia.

Related posts
Maqasid

Relasi Agama dan Negara Perspektif Maqasid al-Syariah

3 Mins read
Oleh: Dr. Muhammad Solikhudin, M. H.I. (Dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri, Jawa Timur) Islam merupakan agama Rah}matan lil ‘A<lami>n mengandung ajaran yang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *