Portal Rujukan Studi Maqasid Syariah

 

Maqasid

Membaca Tradisi Kirab Pendopo Pranikah dalam Kacamata Maqasid

4 Mins read

Oleh: Noer Romi Amin Setiawan (Mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Kediri Jawa Timur)

Seperti diketahui, di Indonesia terdapat tiga hukum yang berlaku sampai saat ini yaitu hukum positif, hukum Islam, dan hukum adat (Soerjono Soekanto, 2011). Di mana hukum tersebut ada yang tertulis sebagai produk lembaga kenegaraan seperti perundang-undangan dan juga ada yang tidak tertulis seperti hukum adat yang berasal dari kebiasaan atau tradisi suatu masyarakat secara turun temurun, di setiap daerah pasti mempunyai tradisi atau kebiasaan yang berbeda-beda dari kebiasaan atau tradisi tersebut kemudian menjadi hukum adat (Yaswirman, 2011). Termasuk juga dalam hal pernikahan, masyarakat Indonesia juga tidak lepas dari hukum positif, hukum Islam dan hukum adat.

Pernikahan merupakan salah satu perintah agama bagi yang memenuhi syarat dalam melakukannya, karena dengan pernikahan dapat menghinadari diri dari perbuatan maksiat dan menjaga diri dari perzinaan (Ahmad Rafiq, 1998). Pernikahan juga dapat dinamakan dengan pintu sah bagi manusia dalam melanjutkan keturunannya dan menyatukan dua jiwa yang saling mencintai serta membangun suatu keluarga bahagia, sakinah, mawaddah, warahmah.

Pernikahan atau perkawinan merupakan fase sakral dalam kehidupan manusia dibanding fase-fase yang lainnya, pernikahan juga dapat disebut fase paling spesial dan istimewa bagi manusia, karena dapat dilihat dalam acara pernikahan pihak-pihak yang berkepentingan cukup banyak dalam acara tersebut, mulai awal merencanakan sampai tahap pelaksanan hingga proses akhir, persiapan serta kesiapan bagi calon pengantin dan yang paling penting dari orang tua serta keluarga mau tidak mau harus terlibat dalam proses acara tersebut sebagai orang yang dihormati.

Demikian pula acara pernikahan pasti tidak lepas dari tradisi dan budaya daerah masing-masing, pastinya memiliki ciri khas, keunikan, dan nilai sakral sendiri-sendiri, oleh karena itu di setiap acara atau upacara kemasyarakatan kita banyak menemui perbedaan-perbedaan serta proses dalam pelaksanaannya.

Pada masyarakat yang berada di daerah Jawa Timur tepatnya di Desa Kramat Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik yang mempunyai upacara adat istiadat dalam pra nikah, yaitu dengan melakukan upacara kirab pendopo sebanyak tiga putaran dengan membawa makanan tradisional seperti, tetel/jadah, dan buah pisang yang diletakkan di sisi pojok kiri dari pendopo tersebut.

Tradisi kirab pendopo ini bukanlah suatu fenomena yang baru terjadi, tetapi sudah dilakukan sejak beberapa abad lalu yang merupakan cikal bakal kebudayaan masyarakat Desa Kramat. Sampai saat ini tradisi kirab pendopo masih dilakukan dengan memegang teguh tradisi nenek moyang yang dibawanya sejak dulu. Bagi masyarakat desa tersebut tradisi ini harus tetap dilakukan karena mereka percaya apabila tradisi ini tidak dilakukan maka rumah tangganya tidak akan bahagia, banyak mengalami konflik/pertengkaran, bahkan bisa sampai berakibat perceraian.

Menurut Yuliatin selaku tokoh masyarakat di desa tersebut menjelaskan bahwa dengan melakukan adat kirab pendopo tersebut dapat mendatangkan keberkahan dan menghilangkan bala’ serta kenyamanan dalam perkawinan, jika tidak melakukan menurut pendapatnya dapat mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan seperti kerasukan, rumah tangganya tidak nyaman, dan dapat mengakibatkan rusaknya rumah tangga (Yuliatin, Tokoh Masyarakat Desa Kramat, Gresik, 10 Oktober 2021).

Pada dasarnya masyarakat Desa Kramat mayoritas bergama Islam, namun juga tidak memungkiri tradisi yang yang dibawa nenek moyang masih dipercaya dan dianggap benar. Masyarakat Desa Kramat tidak ingin mengambil resiko dengan meninggalkan tradisi yang sudah dilakukan turun temurun dilakukan. Karena mereka merasa banyak hal-hal yang memang terjadi bila tidak melakukan dan mematuhi tradisi tersebut.

Meskipun ada juga masyarakat modern yang abai dengan tradisi tersebut dengan argumentasi tidak ada teks yang menjelaskan secara tegas dalam kitab suci dengan tetap mematuhi aturan hukum Islam, hukum positif di Indonesia dan tetap berupaya untuk bersedekah meskipun tanpa tradisi kirab pendopo, serta mencari ridho dari kedua orangtua dan kedua mertua. Hal ini menjelaskan tipe-tipe (tipologi) pernikahan di Gresik dan penulis berupaya menganalisis tradisi kirab pendopo dengan kacamata maqasid al-syariah, untuk mendamaikan tradisi yang sudah lama berkembang di Gresik dengan tujuan ajaran Islam sehingga terwujud keharmonisan yang nyata.

Pada ranah terdapat keterangan tegas maupun tidak dalam nas, terdapat tiga pembagian maqasid/maslahat menurut syara’, diantaranya sebagai berikut: pertama, maslahah mu’tabarah yaitu kemaslahatan yang dikuatkan oleh syara’ karena terdapat dalil khusus yang mendasari bentuk dn jenis kemaslahatan tersebut. Kedua, maslahah mulgha yaitu kemaslahatan yang ditolak karena bertentangan dengan ketentuan syara’. Ketiga, maslahah mursalah yaitu kajian mengenai maslahat dapat didekati dengan dua pendekatan yang berbeda, maslahat sebagai tujuan syara’dan maslahat sebagai dalil hukum yang independen. Kalangan ulama sepakat bahwa maslahat adalah tujuan dari syara’, namun berbeda pendapat terhadap maslahat sebagai dalil hukum. Sehingga terjadi konflik antara nas dengan realitas dan kemaslahatan. Nas dalam pandangan ulama usul fikih dalam dalalahnya dibagi dalam dalalah qath’iyyah dan dalalah dzanniyah (Abdul Wahhab Khallaf, 2003).

Menyangkut ulama yang sepakat dengan kehujjahan maslahah mursalah  memberikan tiga syarat sebagai benteng kokoh agar tidak terjadinya penyalahgunaan konsep ini (M. Atho Mudzhar, 1993), diantaranya sebagai berikut: pertama, maslahat yang dimaksud harus benar ada dan tidak berdasar dugaan. Kedua, maslahat yang ingin dicapai adalah maslahat umum bukan personal. Ketiga, maslahat yang sudah ditetapkan tidak bertolak belakang dengan satu hukum atau ketetapan yang dirumuskan nas ataupun ijma’(Abdul Wahhab Khallaf, 2003). Maka dalam hal ini tradisi kirab pendopo masyuk pada ranah maslahah mursalah. Karena tidak ada keterangan tegas dalam nas dan tidak tertolak.

Praktik kirab pendopo pada ranah cakupan maqasid, masyuk pada dimensi maqasid al-khassah, yaknicara-cara yang sesuai ketentuan syar’i untuk mewujudkan kemanfaatan bagi manusia untuk menjaga kemaslahatan umum dalam amal yang khusus pada bab tertentu atau yang sejenis. Misalnya, tujuan syari’ah dalam hukum yang terkait munakahat seperti, memperkuat hubungan kekerabatan antar masyarakat (Abdul Wahhab Khallaf, 2003). Nah, tradisi kirab pendopo menemukan relevansinya pada ranah ini.

Sedangkan pada aspek tingkatan maqasid, masyuk pada ranah hajjiyah, yakni termasuk tingkatan yang bersifat sekunder yang dibutuhkan manusia. Jika tingkatan ini tidak dapat terlaksanakan maka tidak akan mengancam keselamatan, tetapi akan mengalami kesulitan. Syari’at Islam memudahkan kesulitan tersebut dengan adanya rukhsah (keringanan). Praktik kirab pendopo dilakukan sebagai wujud pendidikan sedekah bagi calon suami istri dan untuk mendapatkan restu dari orangtua dan masyarakat sekitar.

Alhasil menurut pendapat penulis, tradisi kirab pendopo merupakan hal yang baik yang tidak perlu dipertentangkan karena ada muatan sedekah. Meskipun tanpa kirab pendopo pernikahan yang sesuai dengan aturan hukum Islam dan hukum positif tetap sah, namun juga harus memperhatkan tradisi leluhur dan ridho orangtua, karena ridho Allah terletak pada ridho orangtua, sebenarnya inilah titik tekan pada tulisan ini agar terwujud kemaslahatan keluarga. Paling akhir dalam tradisi Jawa Timur pada umumnya yang selaras dengan ajaran Islam tradisi sedekah merupakan upaya agar terhindar dari marabahaya, terlepas pernikahan langgeng ataupun berjodoh di tengah jalan saja (tidak lanjut), ini menjadi ranah kekuasaan Allah Dzat yang Maha segala-galannya. Maka sebaiknya pernikahan dilaksanakan atas dasar saling mencintai dengan mendapatkan doa restu dari orangtua dan melaksanakan tradisi kirab pendopo agar tercipta kemaslahatan keluarga lahir batin serta keberkahan yang luar biasa.

Related posts
Fikih - Usul FikihMaqasid

Tinjauan Maqasid al-Syari’ah Terhadap Penyiasatan Tradisi Perkawinan Ngalor ngulon

4 Mins read
Oleh: Lutfi Masruroh Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam IAIN Kediri Pada dasarnya Allah SWT menciptakan hamba-Nya adalah untuk saling berpasang-pasangan antara laki-laki…
Fikih - Usul Fikih

Larangan Perkawinan Adat Kebo Balik Kandang Perspektif Usul Fikih

4 Mins read
Oleh: Sella Dyah Ariska (Mahasiswa IAIN Kediri) Perkawinan merupakan perilaku yang berfokus pada hal-hal tertentu yang pada awalnya dilarang kemudian menjadi halal…
Fikih - Usul FikihMaqasid

Perubahan Batas Usia Perkawinan Perspektif Usul Fikih

6 Mins read
Oleh: Moh Anas Al-Faruqi (Mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Kediri, Jawa Timur) Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Segala…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.