Portal Rujukan Studi Maqasid Syariah

 

Fikih - Usul FikihMaqasid

Tinjauan Maqasid al-Syari’ah Terhadap Penyiasatan Tradisi Perkawinan Ngalor ngulon

4 Mins read

Oleh: Lutfi Masruroh Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam IAIN Kediri

Pada dasarnya Allah SWT menciptakan hamba-Nya adalah untuk saling berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan. Maka sebagai makhluk-Nya disini terkhusus umat muslim untuk saling berpasang-pasangan antara dua insan terlebih dahulu dengan  menyelenggarakan pernikahan atau perkawinan yaitu dengan melaksanakan akad pernikahan. Akad nikah atau perkawinan ini dalam bahasa Arab berasal dari kata nikah yang secara bahasa mempunyai makna yaitu mengumpulkan, saling memasukkan, atau juga diartikan sebagai bersetubuh (wathi) (Abdul Rahman Ghazaly: 2003, 5).

Salah satu hal yang terpenting dalam sebuah kehidupan manusia adalah perkawinan, dengan adanya perkawinan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hawa nafsu semata. Akan tetapi dengan adanya perkawinan menjadi jalan yang mulia dalam memperoleh keturunan dan juga dalam mengatur kehidupan rumah tangga, selain itu perkawinan juga berguna sebagai kemashlahatan umat manusia. Serta perkawinan juga bertujuan sebagai suatu perjanjian yang suci antara seorang pria dan seorang wanita untuk membentuk sebuah keluarga yang sejahtera, bahagia, dan kekal untuk selamanya hingga maut memisahkannya (Fatkhul Rohman: 2017, 4).

Penjelasan mengenai larangan perkawinan Ngalor Ngulon, Mayoritas masyarakat di Desa Katerban masih percaya adanya larangan perkawinan Ngalor Ngulon, larangan perkawinan ini dikarenakan arah rumah antara seorang laki laki dan perempuan tersebut mengarah ke Ngalor Ngulon, dalam bahasa Indonesia adalah condong ke arah Utara Barat. Hal ini dipercaya tidak diperbolehkan baik untuk seorang perempuan maupun laki-laki yang arah rumahnya mengarah ke arah Ngalor Ngulon atau Utara Barat dan begitu pula sebaliknya. Hal ini tidak diperbolehkan karena dipercaya melanggar adat yang ada di Desa Katerban

Kendati masyarakat di Desa Katerban ini sudah tergolong dalam masyarakat yang berpendidikan, akan tetapi kepercayaan adat yang ada di Desa Katerban ini masih sangat sulit untuk dihilangkan. Masyarakat Desa Katerban ini meyakini bahwa perkawinan Ngalor Ngulon ini tidak baik untuk dilaksanakan karena jika tetap dilaksanakan akan menimbulkan musibah yang tidak diinginkan. Perkawinan Ngalor Ngulon ini tidak mengenal batasan cakupan wilayah sampai arah mana perkawinan tersebut dilarang untuk dilaksanakan. Adat perkawinan Ngalor Ngulon ini sudah dipercaya dari nenek moyang terdahulu dan masyarakat Desa Katerban yang masih percaya adanya peristiwa-peristiwa yang tidak baik akibat melangsungkan perkawinan Ngalor Ngulon tersebut (Fatkhul Rohman: 2017, 4).

Di Desa Katerban ini perkawinan Ngalor Ngulon memang dilarang dan sangat diyakini oleh mayoritas masyarakat di Desa tersebut. Namun ada juga beberapa orang yang menyiasati hal tersebut agar tetap bisa melangsungkan perkawinan Ngalor Ngulon. Penyiasatan disini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki banyak makna atau arti, salah satunya penyiasatan berasal dari kata “siasat” kata benda atau disebut juga nomina, siasat ini memiliki arti cara atau taktik atau disebut juga tindakan muslihat untuk mencapai suatu maksud atau tujuan tertentu (Ernawati Waridah: 2017, 101). Relevansi dengan adanya larangan perkawinan ini bisa disiasati dengan syarat syarat dan ketentuan yang berlaku dalam hukum adat yang berlaku di daerah tersebut.

Dalam ilmu Ushul Fiqih dua, terdapat pembahasan mengenai maqasid syari’ah, maqasid syari’ah ini terdiri menjadi dua kata yaitu “Maqasid” dan “Syari’ah”. Kata maqasid merupakan bentuk jamak dari kata Al-Maqsad yang merupakan bentuk dari masdar mim berasal dari kata Qasada-Yaqsudu-Qasdan-Maqsadan. Menurut bahasa kata maqasid berarti istiqamah al–thariq yang bermakna keteguhan pada satu jalan dan al-i’timad yang bermakna sesuatu yang menjadi tumpuan. Selain itu kata Maqasid juga bermakna al-adl (keadilan) dan al-tawassuth ‘adam al-ifrat wa al-tafrith (mengambil jalan tengah, tidak terlalu longgar, dan tidak pula terlalu sempit). Kata al-qasd ini juga bermakna sebagai pernyataan suatu perbuatan atau ucapan dengan menggunakan timbangan keadilan, tidak terlalu berlebihan dan juga tidak terlalu sedikit, yaitu tetap mengambil jalan tengahnya.

Sedangkan kata “Syari’ah” secara bahasa bermakna maurid al-ma’alladzi tasyra’u fihi al-dawab yang berarti tempat mengalir, dimana ada hewan–hewan minum dari sana). Kata syari’ah ini juga berarti masyra’ah al-ma’ yang memiliki arti tempat tumbuh dan sumber mata air, mawrid al-syaribah allati yasyra’uha al-nas fayasyribuhu minhu wa yastaquna yang artinya tempat lewatnya orang orang minum, yaitu manusia yang mengambil minuman dari sana atau tempat mereka mengambil air. Selain itu, kata syari’ah juga digunakan untuk pengertian al-din dan al-millah (agama), al-thariq (jalan), al-minhaj (metode), dan as-sunnah (kebiasaan). Kata al-syari’ah ini ditempatkan sebagai tempat tumbuh dan sumber mata air yang memiliki makna bahwa sesungguhnya air ini merupakan sumber dari kehidupan manusia, binatang, tumbuh tumbuhan. Demikian juga dalam perihal agama Islam ini merupakan sumber dari kehidupan bagi setiap muslim, kemaslahatan atau manfaatnya, kemajuannya, serta keselamatannya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Dengan demikian, maqasid al-syari’ah secara bahasa merupakan usaha manusia guna mendapatkan jalan keluar atau solusi yang sempurna dan jalan yang benar berpedoman pada pada sumber utama ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW (Busyro: 2019, 5).

Dalam praktiknya, masyarakat daerah Jawa cenderung masih percaya dengan adanya mitos atau kepercayaan yang dipercayai oleh masyarakat setempat secara turun-temurun dan tidak sedikit pula masyarakat setempat yang melangsungkan kebiasaan tersebut. Seperti pada faktanya mayoritas masyarakat di Desa Katerban Kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk ini masih menganut adat atau kebiasaan tentang larangan perkawinan Ngalor Ngulon. Berdasarkan pra riset atau pra penelitian yang saya lakukan di lokasi Desa Katerban Kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk ini saya menemukan bahwa di lokasi tersebut terdapat permasalahan yang sesuai dengan apa yang akan saya teliti, yaitu mengenai praktik penyiasatan perkawinan Ngalor Ngalor tersebut, setidaknya terdapat lima pasangan yang menghendaki perkawinan Ngalor Ngulon ini. Dari hasil tersebut, saya juga melakukan wawancara sederhana dengan orang yang saya temui, dan beliau membenarkan adanya temuan dari permasalahan itu yaitu praktik penyiasatan perkawinan Ngalor Ngulon (Katiran, warga Desa Katerban, Wawancara. Katerban, 18 Desember 2021).

Kemudian, dari hasil temuan tersebut peneliti meninjau dari segi maqasid al-syari’ah dengan alasan mendapatkan jalan keluar atau solusi yang sempurna dan jalan yang benar. Dalam larangan ini masyarakat percaya bahwa perkawinan Ngalor Ngulon ini tidak dibolehkan karena terdapat akibat jika melanggar larangan tersebut. Pada aspek maqasid, terdapat lima prinsip yang terkenal, meliputi hifz al-din, hifz al-nafs, hifz al-aql, hifz al-nasl dan hifz al-mal. Apabila dianalisis, penyiasatan tradisi perkawinan Ngalor Ngulon, untuk merealisasikan hifz al-din dan hifz al-nasl. Menjaga agama dengan cara menikah sesuai dengan panduan agama Islam di satu sisi dan pada sisi yang lain tetap merawat tradisi perkawinan Ngalor Ngulon dengan pernyiasatan. Adapun hifz al-nasl adalah memelihara keturunan dengan jalur perkawinan yang sah, baik secara agama, hukum negara dan hukum adat. Langkah penyiasatan adalah solusi yang sesuai dengan maqasid. Hal ini kelihatannya sederhana dan sepeleh, namun bagi masyarakat penganut tradisi ini dapat diatur dengan menampilkan harmonisasi tradisi dan hukum agama. Hal ini pada awalnya kebutuhan sekunder biasa, namun dapat bergeser masuk ke ranah daruriyat, untuk menghindari kerusakan/kemadharatan, seperti bunyi kaidah: al-hajah qad tunazzalu manzilah al-darurah ammah kanat aw khassah dan untuk menerapkan kaidah dar’u al-mafasid muqaddam ‘ala jalb al-masalih. Waallahu a’lam.

—Kediri 14 April 2022

 

Related posts
Fikih - Usul FikihMaqasid

Perubahan Batas Usia Perkawinan Perspektif Usul Fikih

6 Mins read
Oleh: Moh Anas Al-Faruqi (Mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Kediri, Jawa Timur) Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Segala…
Maqasid

Membaca Tradisi Kirab Pendopo Pranikah dalam Kacamata Maqasid

4 Mins read
Oleh: Noer Romi Amin Setiawan (Mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Kediri Jawa Timur) Seperti diketahui, di Indonesia terdapat tiga hukum yang berlaku sampai…
Fikih - Usul FikihMaqasid

Dialektika Usul Fikih & Tata Kelola Pemerintahan yang Baik

4 Mins read
Oleh: Dr. Muhammad Solikhudin, M. H.I. (Dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri, Jawa Timur) Membincang usul fikih dan fikih memang selalu menarik, mengundang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.